SULAWESI BARAT — PT Elnusa Tbk mengerahkan Hydraulic Workover Unit (HWU) 150K EHR#10 untuk mendukung workover dan reopening sumur idle di Project Pertamina EP Zona 11, Kawengan, Field Cepu. Selama Agustus 2025 hingga September 2026, unit itu menuntaskan 12 pekerjaan sumur dengan Availability dan Reliability masing-masing 100 persen serta Zero Incident. Kapabilitas ini memperkuat peran Elnusa sebagai mitra jasa energi dalam menjaga produksi migas domestik.
PT Elnusa Tbk (IDX: ELSA), perusahaan jasa energi terintegrasi di bawah Subholding Upstream Pertamina, mengandalkan kapabilitas Hydraulic Workover Unit untuk mengoptimalkan sumber daya migas yang sudah ada. Langkah itu diambil ketika sumur-sumur tua di sejumlah lapangan dinilai masih menyimpan potensi yang belum tergarap.
Unit yang dipakai adalah HWU Elnusa 150K EHR#10. Perangkat ini dirancang ringkas sehingga bisa beroperasi di wellpad seluas sekitar 500 meter persegi, memberi keleluasaan bagi Elnusa menjalankan intervensi sumur sesuai karakter lapangan.
Kapabilitas Unit di Wellpad Sempit
Konfigurasi compact menjadi kunci. Sumur-sumur di lapangan tua umumnya berada di area terbatas dan dikelilingi permukiman, sehingga peralatan berukuran besar sulit masuk. HWU 150K EHR#10 menjawab keterbatasan itu tanpa mengorbankan aspek keselamatan dan keandalan operasi.
Andri Haribowo, Direktur Operasi Elnusa, menyebut kemampuan menghadirkan solusi sesuai kebutuhan lapangan sebagai bagian dari peran perusahaan dalam mendukung keberlanjutan operasi hulu migas nasional. Menurut dia, optimalisasi produksi menuntut kemampuan melihat kembali potensi yang sudah tersedia.
"Kapabilitas tersebut juga terus kami kembangkan melalui pelaksanaan pekerjaan workover menggunakan HWU 340K di area Pertamina TEJ dan Sukowati, sebagai bagian dari upaya memperluas kemampuan Elnusa dalam menjawab kebutuhan operasi yang semakin beragam," kata Andri dalam keterangannya, Jumat (9/10).
Catatan Operasi: 12 Sumur, Nol Insiden
Sepanjang periode operasi Agustus 2025 hingga September 2026, Elnusa menyelesaikan 12 pekerjaan sumur. Angka itu disertai catatan Availability 100 persen, Reliability 100 persen, Utility 91,25 persen, dan Zero Incident.
Bagi industri jasa migas, kombinasi angka tersebut menunjukkan unit selalu siap pakai dan kru mampu menjaga keandalan operasi di lapangan. Elnusa menyebut capaian itu sebagai cerminan penerapan prinsip operational excellence dan kinerja keselamatan di setiap pekerjaan.
Kolaborasi dengan Pertamina EP Zona 11 serta hubungan yang terjaga dengan masyarakat sekitar wilayah operasi ikut menopang kelancaran kegiatan. Faktor sosial ini kerap menentukan kelangsungan proyek di lapangan tua yang berdekatan dengan permukiman warga.
Mengapa Sumur Idle Jadi Incaran
Sumur idle adalah sumur yang sudah berhenti berproduksi tetapi masih menyimpan cadangan. Membuka kembali sumur semacam itu jauh lebih murah dibandingkan mengebor sumur baru, sekaligus memperpanjang usia lapangan yang sudah berjalan.
Pendekatan itu sejalan dengan upaya menjaga produktivitas lapangan dan keberlanjutan produksi migas dalam negeri. Di tengah tekanan untuk menahan penurunan produksi nasional, optimalisasi aset eksisting menjadi salah satu jalur yang paling cepat dieksekusi.
Elnusa memposisikan konsistensi operasi sebagai fondasi penguatan license to operate, yang dibangun lewat keandalan teknis, keselamatan, kepatuhan, dan hubungan baik dengan pemangku kepentingan. Keberlanjutan operasi, menurut perusahaan, tidak hanya ditentukan kemampuan menyelesaikan pekerjaan secara teknis.
"Ke depan, Elnusa akan terus memperkuat kompetensi, teknologi, dan keunggulan operasi dengan tetap menempatkan keselamatan serta hubungan yang harmonis dengan pemangku kepentingan sebagai fondasi utama," ujar Andri.
Dia menambahkan, semangat Rediscover Technology and Innovation Edge diarahkan agar setiap kapabilitas Elnusa berkembang menjadi solusi yang relevan bagi pelanggan dan berkontribusi pada ketahanan energi Indonesia. Kontribusi industri jasa energi nasional itu turut dikaitkan dengan arah Asta Cita dalam mendorong swasembada energi.
Bagi investor, catatan operasi HWU menjadi indikator awal kualitas eksekusi Elnusa di lapangan. Keandalan unit dan keselamatan kerja adalah dua variabel yang paling sering menentukan perpanjangan kontrak jasa di sektor hulu migas.