POLEWALI MANDAR — Ancaman kekeringan mulai mengintai sentra produksi padi di Polewali Mandar. Pemerintah kabupaten setempat bergerak cepat dengan menyiapkan sejumlah langkah mitigasi agar Musim Tanam (MT) III 2026 tidak terganggu, terutama bagi petani di wilayah hilir jaringan irigasi Bendung Sekka-Sekka.
Berdasarkan laporan BMKG Sulawesi Barat melalui Pos Pengamatan Majene, potensi El Nino dengan intensitas sangat kuat diperkirakan berlangsung mulai Juni 2026 hingga Januari 2027. Meski Sulawesi Barat diprediksi memasuki musim penghujan pada Oktober-November 2026, curah hujan diperkirakan masih relatif rendah.
Pasokan Air Bendung Sekka-Sekka Menyusut 5 Sentimeter
Kondisi kritis sudah mulai terlihat di sejumlah daerah irigasi. Tinggi muka air di Bendung Sekka-Sekka dilaporkan mengalami penyusutan hingga minus 5 sentimeter dan berpotensi terus menurun apabila hujan tidak segera turun.
Jika kondisi ini berlanjut, pasokan air untuk MT III 2026 dikhawatirkan tidak mencukupi. Wilayah hilir jaringan irigasi Bendung Sekka-Sekka menjadi daerah yang paling rentan terdampak.
Strategi Pemkab Polman: Varietas Genjah hingga Pompa Air
Pemkab Polman menyiapkan beberapa strategi untuk menekan dampak kekeringan. Petani didorong menggunakan varietas padi yang lebih adaptif terhadap kondisi kekeringan dan memiliki kebutuhan air lebih rendah.
- Petani diarahkan memilih varietas padi berumur genjah dengan masa panen sekitar 70 hingga 100 hari.
- Penerapan teknologi pertanian modern melalui manajemen pengelolaan air, disesuaikan dengan pedoman teknis pertanaman serta pendampingan dari penyuluh pertanian.
- Penyediaan sarana prasarana pendukung seperti pengadaan pompa air, pembangunan sumur bor dalam, rehabilitasi jaringan irigasi tersier, serta optimalisasi lahan.
Dukungan sarana tersebut diharapkan dapat dilakukan melalui program pemerintah maupun secara swadaya oleh masyarakat dan kelompok tani sesuai kebutuhan di lapangan.
Rakor Lintas Sektor untuk Antisipasi Dampak El Nino
Rapat koordinasi mitigasi kekeringan dibuka langsung oleh Bupati Polewali Mandar, H. Samsul Mahmud. Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakapolres Polman, Pasi Ops Kodim 1402, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan Provinsi Sulawesi Barat, perwakilan BRMP Sulawesi Barat, Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi V Mamuju, serta BMKG Sulawesi Barat.
Melalui koordinasi lintas sektor ini, Pemkab Polman berharap dampak kekeringan terhadap sektor pertanian dapat ditekan. Ketersediaan air bagi petani, khususnya masyarakat yang bergantung pada jaringan irigasi Bendung Sekka-Sekka, diharapkan tetap dapat diantisipasi sehingga MT III 2026 dapat berjalan dengan baik.