SULAWESI BARAT — Donald Trump menyebut kenaikan harga bensin imbas konflik dengan Iran sebagai salah satu pemicu kekalahan Partai Republik pada pemilu sela. Presiden AS itu menilai pemilih mendukung sikapnya terhadap Teheran, tetapi tidak siap menanggung biaya jangka pendek berupa BBM lebih mahal. Pernyataan disampaikan kepada Fox News setelah pemungutan suara digelar Selasa (3/11).
Donald Trump menyampaikan refleksi kekalahan partainya dalam wawancara dengan Fox News, Rabu, sehari setelah pemungutan suara pemilu sela. Dalam wawancara itu, Presiden AS tersebut mengaitkan hasil pemilu dengan dampak ekonomi dari kebijakan luar negerinya terhadap Iran.
Menurut Trump, publik Amerika mendukung langkahnya menghadapi Teheran. Namun, dukungan itu tidak otomatis berarti pemilih bersedia membayar lebih mahal untuk bensin.
"Orang-orang setuju dengan apa yang saya lakukan terhadap Iran, tetapi mereka mungkin benar-benar tidak bersedia menghadapi konsekuensi jangka pendek berupa pembayaran lebih mahal untuk bensin," kata Trump seperti dikutip Fox News.
Ia menyebut tekanan harga tersebut sebagai masalah sementara. Trump berargumen kebijakan terhadap Iran tetap memberi keuntungan jangka panjang bagi AS.
Trump memperingatkan militer AS dapat "menyelesaikan pekerjaan" bila Teheran menolak bekerja sama. Meski begitu, ia tetap membuka ruang negosiasi diplomatik.
Kesepakatan, menurut Trump, masih mungkin dicapai asalkan memuat pembatasan yang mengikat terkait program senjata nuklir Iran. Pernyataan itu memperlihatkan posisi ganda Washington: tekanan militer di satu sisi, jalur diplomasi di sisi lain.
Dalam wawancara yang sama, Trump kembali menegaskan keputusan memangkas bantuan tahunan untuk Israel. Nilainya 4 miliar dolar AS atau sekitar Rp72,59 triliun.
Alasannya, Israel dinilai sudah cukup kaya dan tidak lagi membutuhkan bantuan tahunan sebesar itu. Keputusan tersebut menandai pergeseran sikap Washington terhadap salah satu sekutu utamanya di Timur Tengah.
Sejumlah media AS memproyeksikan Partai Demokrat merebut kendali Senat. Demokrat juga berpeluang memperoleh mayoritas di Dewan Perwakilan Rakyat.
Kontrol legislatif oleh oposisi berpotensi membatasi agenda legislasi Trump selama sisa masa jabatannya. Trump mengakui hasil tersebut dan memuji para kandidat oposisi yang dinilai berjuang keras.
Kepada Politico, Trump menyatakan memiliki kewenangan konstitusional untuk memveto undang-undang. Namun, ia lebih memilih bekerja sama dengan anggota parlemen.
Ia menilai menghabiskan dua tahun untuk memveto berbagai rancangan undang-undang bukan pilihan yang produktif. Trump juga menyebut bisa bekerja sama dengan Demokrat dalam banyak hal, termasuk persoalan imigrasi.