MAMUJU — Angka inflasi year on year Sulawesi Barat Oktober 2026 disampaikan dalam Berita Resmi Statistik yang digelar BPS Sulbar, Senin (2/11/26), dipimpin Kepala BPS Sulbar Suri Handayani bersama sejumlah pejabat lembaga tersebut.
Suri menyebut kenaikan harga terjadi merata di semua kelompok pengeluaran. Kelompok kesehatan mencatat lonjakan paling tinggi, disusul kebutuhan pangan harian yang menopang sebagian besar belanja rumah tangga di daerah.
Dari sisi wilayah, Kabupaten Mamuju mencatat inflasi tahunan 3,36 persen dengan IHK 112,86. Angka itu menjadi yang tertinggi di Sulbar.
Kabupaten Majene berada di posisi terendah dengan inflasi 3,11 persen dan IHK 112,37. Selisih keduanya tipis, menandakan tekanan harga bergerak hampir merata antarwilayah.
Kelompok kesehatan memimpin kenaikan dengan 4,42 persen. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyusul di 4,25 persen.
Transportasi naik 3,89 persen, sementara perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 3,80 persen. Kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan tercatat 3,15 persen.
Penyediaan makanan dan minuman atau restoran naik 2,98 persen, perawatan pribadi dan jasa lainnya 2,12 persen, serta perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 1,79 persen.
Kelompok pendidikan naik 1,63 persen. Pakaian dan alas kaki hanya 0,54 persen, sedangkan rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,51 persen.
Selain inflasi tahunan, BPS Sulbar mencatat inflasi month to month Oktober 2026 sebesar 0,20 persen. Inflasi year to date atau sejak awal tahun hingga Oktober tercatat 2,86 persen.
"Iya untuk bulan Oktober 2026, Sulbar alami inflasi sebesar 3,21 persen," terang Suri saat memaparkan berita resmi statistik.
Rangkaian angka itu menggambarkan pergerakan harga barang dan jasa di Sulawesi Barat sepanjang Oktober 2026. Kelompok kesehatan dan pangan perlu dicermati karena menyentuh langsung belanja dasar warga di kampung maupun kota.