SULAWESI BARAT — Kebakaran hutan yang melanda Kalimantan dan Sumatra menimbulkan asap tebal serta kobaran api yang merusak habitat orang utan. Satwa dilindungi itu kehilangan tempat hidup dan sumber makanan akibat meluasnya titik api di kedua wilayah. Kondisi ini memperparah tekanan terhadap populasi orang utan yang sudah rentan di alam liar.
Orang utan membutuhkan hutan dengan pepohonan tinggi untuk bersarang, bergerak antarcabang, dan mencari buah sebagai makanan utama. Ketika api membakar vegetasi, satwa ini kehilangan ruang jelajah sekaligus pasokan pangan alaminya.
Kerusakan habitat memaksa orang utan mendekati area permukiman atau perkebunan untuk bertahan hidup. Perpindahan itu meningkatkan risiko konflik dengan manusia serta memperkecil peluang satwa menemukan makanan yang cukup.
Kalimantan dan Sumatra merupakan dua wilayah dengan populasi orang utan terbesar di Indonesia. Keduanya menjadi tumpuan konservasi satwa yang statusnya dilindungi tersebut.
Luasnya area terbakar di kedua pulau membuat dampak terhadap populasi tidak bisa dianggap kecil. Hilangnya koridor hutan mempersempit ruang gerak orang utan dan memecah populasi menjadi kelompok-kelompok kecil yang lebih rentan.
Selain kehilangan tempat tinggal, orang utan menghadapi ancaman asap yang mengganggu pernapasan. Satwa ini juga berisiko terluka atau terbakar saat api menjalar ke tajuk pohon tempat mereka berlindung.
Tekanan terhadap sumber makanan memaksa orang utan mengubah pola makan dan perilaku harian. Dalam jangka panjang, kondisi itu dapat menurunkan tingkat kelangsungan hidup anak orang utan yang masih bergantung pada induknya.
Populasi orang utan di Kalimantan dan Sumatra telah lama menghadapi penyusutan habitat akibat pembukaan lahan dan alih fungsi kawasan hutan. Kebakaran menambah beban yang sudah ada sebelumnya.
Setiap kejadian kebakaran memperkecil peluang pemulihan ekosistem, karena hutan gambut dan hutan hujan tropis membutuhkan waktu panjang untuk kembali pulih. Regenerasi vegetasi yang lambat membuat ketersediaan pangan bagi orang utan tidak langsung kembali normal.
Upaya pemadaman menjadi langkah pertama untuk menghentikan perluasan api ke kantong-kantong habitat orang utan. Setelah itu, pemantauan populasi di area terdampak diperlukan untuk mengetahui seberapa besar kerusakan yang terjadi.
Penyediaan koridor hutan dan penanaman kembali vegetasi pakan menjadi pekerjaan lanjutan yang menentukan kelangsungan hidup satwa. Tanpa pemulihan habitat, orang utan yang selamat dari kebakaran tetap kesulitan menemukan tempat hidup yang layak.
Kebakaran di Kalimantan dan Sumatra menempatkan orang utan pada posisi yang semakin terdesak. Hilangnya habitat dan sumber makanan akibat api menjadi ancaman langsung bagi kelangsungan populasi satwa dilindungi itu di alam liar.