Insinyur OpenAI Ditangkap, Diduga Pasang Alat Penyadap di Ruang Rapat

Penulis: Yanto Prasetya  •  Kamis, 15 Oktober 2026 | 15:50:31 WIB
Insinyur OpenAI asal Arab Saudi ditangkap di San Francisco atas dugaan pemasangan alat perekam rahasia.

SULAWESI BARAT — Abdulrahman Alfozan, insinyur OpenAI asal Arab Saudi berusia 35 tahun, ditangkap pada Jumat (9/10) karena diduga memasang alat perekam rahasia di ruang konferensi eksekutif kantor pusat OpenAI, San Francisco. Penangkapan ini diumumkan Direktur FBI Kash Patel pada Selasa (13/10), bersamaan dengan sidang perdana Alfozan di pengadilan federal.

Alfozan mulai bekerja sebagai insinyur di kantor OpenAI San Francisco sejak Juli 2025. Alat perekam audio ditemukan di dalam port USB di bagian belakang televisi ruang rapat eksekutif pada 30 September, setelah sebelumnya disembunyikan di dalam tisu toilet. Perangkat itu diperkirakan sudah terpasang sejak 28 September.

OpenAI menyatakan hasil rekaman pada perangkat tersebut telah dienkripsi. Meski demikian, perusahaan mengidentifikasi ruang rapat tersebut sebagai lokasi diskusi rutin soal penelitian hak milik, rencana produk, peluang pengembangan bisnis, hingga informasi nonpublik tentang kemajuan teknis dan keputusan strategis.

Jejak Alat Penyadap Terungkap Lewat CCTV

Rekaman CCTV memperlihatkan Alfozan berada di dekat ruang rapat eksekutif beberapa hari sebelum alat itu ditemukan.

Padahal, ia tidak memiliki akses maupun terlibat langsung dalam rapat apa pun di ruangan tersebut. Rekaman pada 5 Oktober, beberapa pekan sebelum kejadian, bahkan menunjukkan Alfozan memasuki ruang rapat dan melihat ke belakang televisi, tempat alat penyadap itu belakangan ditemukan.

Pada hari yang sama, Alfozan meninggalkan tasnya di ruangan berbeda. Petugas keamanan OpenAI membuka tas tersebut dan menemukan dompet berisi kartu identitas Alfozan serta alat perekam audio lain yang mirip dengan barang bukti persidangan.

Pertanyaan ke Chatbot Jadi Petunjuk

Sebelum 28 September, Alfozan memakai AI atau productivity tool internal perusahaan untuk mencari informasi soal alamat gedung OpenAI, ruang rapat, kapasitas ruangan, kalender, hingga lokasi pertemuan eksekutif dengan mitra eksternal.

Ia juga menggunakan chatbot milik istrinya untuk bertanya soal pembuatan, penyesuaian, pemasangan, perekaman audio, pengujian, pengaburan, dan akses jarak jauh sebuah perangkat. Beberapa pertanyaan yang diajukan antara lain "membuat perekaman audio kontinu", "menyesuaikan konektivitas Wi-Fi", "meningkatkan audio dan mendengarkan langsung", serta "mengenkripsi kartu SD".

Riwayat akun chatbot yang sama menyebut secara eksplisit alat penyadap yang ditemukan, termasuk custom header dan alamat MAC uniknya.

Respons FBI dan Kejaksaan AS

Direktur FBI Kash Patel menyebut pengaduan yang dibuka pada Selasa (13/10) mengungkap dugaan Alfozan menyembunyikan alat perekam rahasia di ruang konferensi eksekutif tempatnya bekerja, untuk secara diam-diam merekam komunikasi sensitif soal teknologi super intelligence perusahaan.

"Bagi kami, ini adalah masalah keamanan nasional. Penangkapan ini menyoroti upaya tanpa henti kami dalam kemitraan dengan FBI untuk mengidentifikasi dan menuntut mereka yang berupaya mencuri teknologi kami, seperti yang dituduhkan dalam pengaduan," kata Jaksa Agung AS Craig Missakian.

Jadwal Sidang Lanjutan

Alfozan dijadwalkan kembali menghadiri pengadilan federal pada Senin (19/10) untuk menjalani sidang penahanan (detention hearing) di hadapan hakim pengadilan negeri Alex G. Tse. Kasus ini menambah tekanan pada OpenAI yang tengah bersaing ketat di pasar AI global, termasuk dalam pengembangan teknologi super intelligence yang menjadi target dugaan penyadapan.

Reporter: Yanto Prasetya
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top