Vinyl Bar in Shibuya, Startup Eks Eksekutif Spotify Rilis Aplikasi Musik Tanpa AI Prompting

Penulis: Vino Bastian  •  Senin, 14 September 2026 | 21:02:31 WIB
Founder A Vinyl Bar in Shibuya, Máuhan M Zonoozy, meluncurkan aplikasi musik tanpa fitur AI prompting.

SULAWESI BARAT — Mantan eksekutif Spotify yang pernah memimpin divisi inovasi, Máuhan M Zonoozy, kembali ke dunia startup dengan mendirikan A Vinyl Bar in Shibuya. Perusahaan ini merilis serangkaian aplikasi musik berskala kecil yang menyasar interaksi langsung pengguna dengan suara dan vokal, bukan sekadar konsumsi konten.

Zonoozy meninggalkan Spotify pada 2024. Ia menilai streaming sudah menyelesaikan masalah akses musik, tetapi sebagian besar interaksi pengguna masih berkutat pada konsumsi pasif.

Apa yang Ditawarkan A Vinyl Bar in Shibuya

Startup ini merilis produk eksperimental layaknya "singles" dalam sebuah album. Semua aplikasi dan situs webnya punya tema serupa: pengguna berinteraksi dengan berbagai elemen untuk menciptakan atau memodifikasi suara.

Speed Surfer hadir sebagai ekstensi Chrome yang mengubah kecepatan dan filter suara di jendela browser. Usersound memungkinkan pengguna membuat "username audio" dengan setiap huruf mewakili satu nada. Stacks adalah stem player berbentuk grid 3×3, tempat pengguna menyalakan atau mematikan bar untuk menciptakan mix.

Drops bekerja dengan menempatkan plakat dalam pola tertentu untuk memantulkan kelereng yang jatuh, menghasilkan nada musik. Sampler mengubah video YouTube menjadi sampler musik berdasarkan beat dari berbagai bagian lagu.

Aplikasi bop dan Rencana Multiplayer

Produk paling ambisius mereka adalah bop, aplikasi iOS yang memungkinkan pengguna menempatkan instrumen dan efek musik dalam grid untuk menciptakan mix dari lagu dasar. Pengguna bisa mengatur tempo dan menambahkan efek sekali pakai. Hasil mix dapat diekspor langsung ke TikTok atau Instagram.

A Vinyl Bar in Shibuya tengah mengembangkan versi multiplayer bop. Fitur ini akan memungkinkan beberapa pengguna me-remix lagu secara bersamaan.

Mengapa Memilih Jalan Tanpa AI

Zonoozy menyatakan perusahaan sengaja tidak menyisipkan AI ke setiap bagian aplikasi. Ia terbuka menggunakan AI untuk membangun produk dan memperkuat infrastruktur, tetapi tidak untuk generasi musik.

"AI is obviously extraordinarily powerful, but I think we just don't necessarily believe that the future of music is simply generation, like song generation via AI," kata Zonoozy kepada TechCrunch.

Ia menambahkan bahwa jika AI membuat konten semakin melimpah, justru selera, perspektif manusia, dan partisipasi menjadi lebih penting dan bernilai.

Pendanaan dan Investor

Perusahaan mengumpulkan US$5,5 juta dalam putaran pre-seed. Mantis VC, SV Angel, Boxgroup, Quiet Capital, ERA, Common Metal, Gold House, Liquid 2 Ventures, Breakers VC, dan Systemic Ventures turut berpartisipasi.

Dawn Ostroff, mantan chief content and advertising business officer Spotify, bergabung sebagai advisor. Sebelum mendirikan A Vinyl Bar in Shibuya, Zonoozy pernah membangun startup kliping dan remix video bernama Bubbl yang diakuisisi Cricket Media.

Rencana Produk Berikutnya

Tahun ini, A Vinyl Bar in Shibuya menargetkan rilis "musical sandbox mixer" yang memungkinkan pengguna bereksperimen dengan berbagai elemen pembuatan musik, termasuk menciptakan instrumen sendiri.

Langkah startup ini menunjukkan bahwa tidak semua pemain industri musik menempuh jalur generative AI. Bagi pasar Indonesia yang memiliki basis pengguna TikTok dan Instagram besar, tools kreasi musik berbasis interaksi manual bisa membuka peluang adopsi tersendiri.

Reporter: Vino Bastian
Sumber: techcrunch.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top