PHE Tuntaskan Seismik 6.000 Km di Samudera Hindia, Nol Insiden

Penulis: Usman Harun  •  Kamis, 10 September 2026 | 08:34:01 WIB
PHE menuntaskan akuisisi data seismik lepas pantai 2D SE Java sepanjang 6.000 kilometer di Samudera Hindia.

SULAWESI BARATSurabaya. PHE, yang berperan sebagai Subholding Upstream Pertamina, menuntaskan akuisisi data seismik lepas pantai 2D SE Java di Samudera Hindia. Capaian ini melengkapi keberhasilan serupa di Selat Makassar, tempat PHE menyelesaikan seismik lepas pantai 3D SE Java pada Juli 2026.

Survei 2D SE Java masuk dalam pelaksanaan Komitmen Kerja Pasti PHE Jambi Merang (KKPJM) di wilayah terbuka. Area yang dipetakan mencakup perairan lepas di enam kabupaten Jawa Timur: Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, dan Lumajang.

Dua Fase, Satu Titik Rampung

Kondisi alam memaksa proyek berjalan dalam dua tahap. Gelombang tinggi dan arus bawah laut yang kuat di Samudera Hindia membuat akuisisi data tidak bisa dilakukan sekaligus.

Fase pertama bergulir sejak Oktober 2025, lalu dihentikan sementara pada Desember 2025 dengan alasan keselamatan kerja (HSSE). Setelah cuaca ekstrem mereda, tim melanjutkan fase kedua pada Juli 2026. Seluruh pekerjaan resmi selesai pada 26 Agustus 2026.

Ahmad Najihal Amal, VP Exploration Technical Excellence & Coordination PHE sekaligus Kepala Teknik Proyek, menegaskan bahwa 6.000 kilometer lintasan seismik itu tuntas dengan catatan Zero Accident.

"Survei 2D SE Java dapat diselesaikan dengan baik tanpa adanya insiden HSSE berkat persiapan operasi yang matang, kerja sama, serta sinergi yang efektif dari seluruh fungsi dan pemangku kepentingan di 6 kabupaten Jawa Timur, Pemprov Jatim, serta jajaran aparat keamanan (Kodaeral V Surabaya, Lanal Pacitan, dan Lanal Malang)," ujar Najihal dalam keterangannya, Rabu (9/9).

Trenggalek–Pacitan Dimatai Khusus

Wilayah Laut Selatan Jawa lama dipandang kurang menjanjikan karena berada di zona fore-arc basin. PHE membaca peluang berbeda, khususnya di area Trenggalek–Pacitan yang dinilai menyimpan potensi akumulasi hidrokarbon tersendiri.

Proyek ini menjadi tonggak penting bagi program New Venture PHE di kawasan tersebut. Jika temuan awal terkonfirmasi, hasilnya bisa membuka wilayah kerja atau blok eksplorasi migas baru untuk menopang ketahanan energi nasional.

Aldy Amir, Kepala Divisi Prospektivitas dan Manajemen Data SKK Migas, memuji kualitas data akuisisi yang dinilai sangat baik. Pencapaian itu, menurut dia, tidak lepas dari tantangan kondisi laut selatan Jawa yang cukup besar.

Teknologi di Balik Data

PHE memakai teknologi akuisisi 2D Marine Streamer Broadband dalam survei ini. Metode tersebut memungkinkan pencitraan geometri bawah permukaan bumi dengan tingkat akurasi lebih tinggi, terutama untuk target eksplorasi kedalaman tinggi (deep target).

Akurasi citra bawah permukaan menjadi krusial di area fore-arc yang struktur geologinya kompleks. Data yang rapi memangkas risiko salah baca sebelum pengeboran eksplorasi dilakukan.

Dengan rampungnya survei 2D SE Java, PHE memegang modal data untuk melanjutkan kajian di Laut Selatan Jawa. Langkah berikutnya adalah pengolahan dan interpretasi data sebelum penetapan lokasi pengeboran. Bagi Pertamina, keberhasilan ini memperkuat posisi Subholding Upstream dalam memburu cadangan baru di wilayah frontier yang selama ini dihindari banyak operator.

Reporter: Usman Harun
Sumber: dunia-energi.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top