SULAWESI BARAT — Erupsi Gunung Anak Krakatau sejak Jumat (4/9/2026) membuat sejumlah wilayah di sekitarnya diguyur abu vulkanik. Kondisi ini bukan sekadar membuat kotor halaman rumah, tapi juga bisa mengganggu kesehatan paru-paru jika tidak diantisipasi dengan benar.
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, telah mengimbau warga di area terdampak untuk mengurangi aktivitas di luar rumah. Namun, bila terpaksa keluar, penggunaan masker dan kacamata menjadi langkah perlindungan yang wajib dilakukan.
Banyak yang mengira abu vulkanik sama seperti debu rumah tangga. Padahal, keduanya berbeda jauh, Bunda. Memahami perbedaan ini penting untuk menentukan langkah perlindungan yang tepat.
Ukuran partikel abu vulkanik yang sangat kecil, yaitu PM10 dan PM2.5, membuatnya mudah lolos dari saringan alami saluran napas atas dan masuk hingga ke bagian terdalam paru. Dokter Spesialis Paru, dr. Ibrahim Dharmawan, SpP, menjelaskan bahwa paparan ini bisa memicu keluhan seperti tenggorokan tidak nyaman, batuk, sesak napas, serta iritasi mata dan hidung.
Kelompok yang paling berisiko mengalami dampak berat adalah anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit paru seperti asma dan PPOK. Paparan berulang pada partikel mineral yang tidak mudah larut juga bisa memicu respons peradangan di jaringan paru.
Menjaga si kecil dan keluarga tetap sehat saat kondisi udara buruk membutuhkan beberapa penyesuaian. Berikut langkah yang bisa Bunda terapkan di rumah:
Tidak semua masker mampu menyaring partikel halus abu vulkanik. Profesor paru dari RSUP Persahabatan, Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, SpP(K), menegaskan masker yang ideal adalah tipe respirator.
"Yang ideal yaitu masker yang kita sebut respirator, yang bisa memfiltrasi partikel particulate matter seperti contohnya masker N95 atau KN95," ujar Prof. Agus. Masker bedah biasa atau kain tidak cukup efektif untuk menahan partikel sekecil PM2.5.
Jika stok N95 atau KN95 sulit ditemukan, Bunda bisa memilih respirator lain yang memiliki kemampuan filtrasi partikel serupa. Perhatikan keterangan pada kemasan masker sebelum membeli.
Meski sebagian orang hanya mengalami keluhan ringan, Bunda perlu segera membawa anggota keluarga ke fasilitas kesehatan jika muncul gejala seperti batuk yang tak kunjung reda, sesak napas yang memberat, atau nyeri dada. Penanganan dini penting untuk mencegah komplikasi yang lebih serius pada saluran pernapasan.
Menjaga kesehatan di tengah bencana abu vulkanik memang butuh kewaspadaan ekstra. Dengan penggunaan masker yang tepat dan membatasi aktivitas luar ruangan, Bunda sudah melakukan langkah terbaik untuk melindungi buah hati dan seluruh keluarga.