SULAWESI BARAT — Lima kabupaten/kota yang menjadi sasaran meliputi Bulungan, Malinau, Nunukan, Tana Tidung, dan Kota Tarakan. Dari total tersebut, 63 titik di Kalimantan Utara merupakan bagian dari 168 desa yang masuk program elektrifikasi di wilayah kerja PLN Kaltimra.
Manager PLN UP2K Kalimantan Utara, Donny, mengatakan pembangunan dilakukan bertahap. Kondisi geografis dan akses menuju lokasi menjadi pertimbangan utama di setiap tahapan pengerjaan.
"Karakteristik setiap wilayah tentu berbeda, terutama untuk daerah pelosok dan perbatasan. Karena itu, pembangunan dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan kesiapan teknis serta kondisi di lapangan," ujar Donny.
Di Kabupaten Bulungan, jaringan listrik baru menyasar sejumlah wilayah seperti Long Tungu, Long Sam, Salimbatu, Tanjung Buka, Mangkupadi, Sajau, dan Wonomulyo. Sementara di Kabupaten Malinau, proyek mencakup Sesua, Tanjung Lapang, Setulang, Setarap, Metut, Nahakramo, hingga Long Bisai.
Perluasan juga berjalan di Kabupaten Nunukan yang mencakup area Krayan, Lumbis, Sebatik, Sei Menggaris, dan Tulin Onsoi. Sebagian titik di Krayan dan Sebatik berada di zona perbatasan langsung dengan Malaysia, yang aksesnya hanya bisa ditempuh melalui jalur udara atau sungai.
Adapun pembangunan lainnya dilaksanakan di sejumlah wilayah Kabupaten Tana Tidung dan Kota Tarakan.
General Manager PLN UID Kaltimra, Muchamad Chaliq Fadli, menyebut perluasan ini bukan sekadar soal penerangan. Menurutnya, setiap titik pembangunan memiliki arti penting bagi masyarakat yang tinggal di wilayah terpencil.
"Di balik setiap titik tersebut, terdapat masyarakat yang menantikan hadirnya akses energi untuk mendukung aktivitas sehari-hari, pendidikan, pelayanan publik, hingga pengembangan potensi ekonomi di wilayahnya," kata Chaliq.
Dia menambahkan, listrik menjadi fondasi bagi peningkatan kualitas hidup dan pertumbuhan wilayah. PLN tidak hanya berorientasi pada penyediaan infrastruktur, tetapi juga bagaimana energi bisa menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat setempat.
Chaliq menekankan pentingnya kolaborasi antara PLN, pemerintah daerah, dan masyarakat. Dukungan berbagai pihak diperlukan karena pembangunan di wilayah dengan medan sulit tidak bisa berjalan sendiri.
Melalui proyek di 63 titik tersebut, PLN UID Kaltimra mendorong peningkatan Rasio Desa Berlistrik (RDB) di Kalimantan Utara. Upaya ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan memperluas akses energi hingga ke wilayah terdepan, terluar, dan perbatasan negara.
Bagi warga di pelosok, hadirnya listrik membuka peluang aktivitas baru yang sebelumnya terbatas oleh keterbatasan energi. Ini sekaligus menjadi langkah strategis mengurangi kesenjangan infrastruktur antara Pulau Jawa dan kawasan timur Indonesia.