Harga Minyak Turun Imbas Sinyal Reda Konflik AS-Iran, Bitcoin di Mamuju hingga Sulbar Dipantau Investor Kripto

Penulis: Yanto Prasetya  •  Kamis, 03 September 2026 | 20:23:31 WIB
Harga minyak dunia terpantau turun menyusul sinyal meredanya konflik Amerika Serikat dan Iran, Kamis (3/9/2025).

MAMUJU — Pasar kripto global tengah berada di titik krusial. Harga Bitcoin (BTC) tertahan di kisaran US$77.759 per Kamis (3/9), belum mampu menembus level resistance penting di US$78.000 yang selama ini dinanti investor. Perkembangan konflik Amerika Serikat dan Iran menjadi faktor eksternal yang paling menentukan arah pergerakan selanjutnya.

CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai pergerakan Bitcoin saat ini tidak bisa hanya dibaca dari indikator teknikal semata. Perubahan persepsi risiko global akibat geopolitik justru menjadi katalis yang jauh lebih besar.

“Bitcoin saat ini berada di persimpangan antara faktor teknikal dan makro. Level resistance memang penting, tetapi katalis yang lebih besar bisa datang dari perubahan persepsi risiko global. Jika tensi geopolitik mereda, tekanan terhadap harga energi ikut berkurang dan sentimen risk-on kembali, Bitcoin berpotensi menjadi salah satu aset yang menerima aliran modal lebih cepat,” ujar Yudho dalam keterangan yang diterima redaksi, Kamis (3/9).

Sinyal Damai dari Trump dan Efek Berantainya ke Inflasi

Spekulasi meredanya konflik menguat setelah Trump memberi sinyal bahwa serangan terbaru terhadap Iran tidak akan berlangsung lama. Media internasional melaporkan Trump telah berdiskusi dengan penasihat seniornya untuk secara resmi menyatakan konflik berakhir, meski belum ada keputusan final.

Situasi di lapangan memang masih memanas. AS dan Iran sempat bertukar serangan pada awal September—AS menyerang fasilitas radar Iran, sementara Iran membalas dengan drone dan rudal ke posisi AS di Timur Tengah.

“Perlu diperhatikan bukan semata-mata apakah perang dinyatakan berakhir, tetapi efek berantainya. Jika eskalasi mereda, risiko gangguan pasokan energi dapat berkurang, harga minyak berpotensi terkoreksi, tekanan inflasi bisa lebih terkendali, dan ruang kebijakan bank sentral menjadi lebih fleksibel. Kombinasi faktor tersebut secara historis lebih kondusif bagi aset berisiko, termasuk kripto,” kata Yudho.

Minyak dan Dolar Jadi Penentu Suku Bunga The Fed

Pasar minyak menjadi indikator utama yang dipantau pelaku pasar. Harga Brent sempat turun ke sekitar US$95,20 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar US$90,77 per barel. Harga minyak yang tetap tinggi berpotensi menekan inflasi dan membatasi ruang The Fed melonggarkan kebijakan moneternya—faktor yang menentukan minat investor terhadap aset berisiko.

Penurunan harga minyak yang konsisten akibat deeskalasi konflik dapat membantu meredakan kekhawatiran itu. Pada Kamis pagi, harga minyak dan imbal hasil obligasi mulai turun, sementara sebagian pasar saham Asia menguat.

Menurut Yudho, investor kripto di Indonesia perlu melihat Bitcoin bukan sebagai aset yang bergerak sendiri, tetapi sebagai bagian dari ekosistem pasar global. Dinamika harga minyak, inflasi, imbal hasil obligasi, dolar AS, dan ekspektasi suku bunga saling terhubung dengan pasar kripto.

Level Kunci yang Menentukan Arah Bitcoin

Area US$78.000 menjadi level psikologis yang harus ditembus Bitcoin untuk membuka ruang penguatan menuju target US$100.000. Jika gagal bertahan, pelemahan signifikan dengan penutupan mingguan di bawah US$70.000 berpotensi memicu tekanan jual lebih besar.

Konflik AS-Iran yang masih berlangsung dan harga minyak di level tinggi membuat pelaku pasar tidak bisa bergerak terlalu agresif. Arah kebijakan moneter AS hingga akhir tahun tetap menjadi perhatian utama sebelum investor berani menambah posisi aset berisiko seperti kripto.

Reporter: Yanto Prasetya
Sumber: mandarnews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top