Lahan Cuma 1.400 Meter Persegi, Petani Bojonegoro Ini Panen Padi, Ikan, Melon, sampai Jambu Sekaligus

Penulis: Xander Situmorang  •  Rabu, 19 Agustus 2026 | 10:50:01 WIB
Petani Bojonegoro, Mbah Dul, memanfaatkan lahan seluas 1.400 meter persegi dengan sistem pertanian terpadu untuk membudidayakan padi, ikan, melon, dan jambu kristal.

SULAWESI BARAT — Konsep yang dijalankan Mbah Dul bernama Integrated Farming System (IFS) atau Sistem Pertanian Terpadu. Semua ruang di lahannya dimanfaatkan secara vertikal. Di lapisan bawah, ia membudidayakan ikan nila dengan sistem mina padi. Di atasnya, tanaman padi tumbuh sebagai komoditas utama.

Tak berhenti di situ, lapisan berikutnya digunakan untuk budidaya melon. Sementara di sepanjang pematang, ditanami jambu kristal yang punya nilai jual tambahan. "Semua kita manfaatkan. Jangan sampai ada ruang yang kosong dan tidak menghasilkan," ujar Mbah Dul.

Menurutnya, pertanian tak selalu identik dengan lahan luas. Kunci utamanya adalah pengelolaan yang tepat dan kemauan berinovasi. Dengan pola ini, produktivitas lahan meningkat drastis dan ketahanan pangan keluarga ikut menguat.

Mimpi Gedung Pertanian Tujuh Lantai

Inovasi Mbah Dul ternyata belum selesai. Saat ini baru empat lapisan yang berhasil ia wujudkan. Ia mengaku sudah merancang tiga lapisan tambahan yang disebutnya "lantai" kelima, keenam, dan ketujuh.

Rencananya, lantai kelima akan difungsikan untuk peternakan. Lantai keenam disiapkan sebagai pusat pelatihan bagi petani lain yang ingin belajar. Sedangkan lantai paling atas dirancang sebagai pusat pemasaran hasil pertanian. Semua lantai itu direncanakan berada dalam satu kawasan lahan yang saling terintegrasi.

Impian tersebut mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro, Zaenal Fanani, sempat meninjau langsung lahan milik Mbah Dul pada Rabu (6/8/2026).

Inspirasi bagi Petani Milenial

Zaenal menilai apa yang dilakukan Mbah Dul adalah bukti nyata bahwa keterbatasan lahan bukan penghalang untuk bertani produktif. "Mbah Dul membuktikan bahwa lahan yang tidak terlalu luas pun dapat memberikan hasil yang optimal apabila dikelola dengan inovatif," katanya.

Ia menambahkan, sistem pertanian terpadu meningkatkan efisiensi lahan, mendiversifikasi hasil panen, dan memberi nilai ekonomi lebih baik. "Masa depan pertanian tidak hanya ditentukan oleh luas lahan, tetapi juga oleh kreativitas, kemauan belajar, dan keberanian berinovasi," tegas Zaenal.

Pemkab Bojonegoro berharap model pertanian ala Mbah Dul bisa direplikasi petani di wilayah lain. Langkah ini sejalan dengan target pemerintah daerah mewujudkan sektor pertanian yang maju dan berkelanjutan sebagai fondasi menuju Bojonegoro yang bahagia, makmur, dan membanggakan.

Kisah Mbah Dul menjadi contoh bagaimana keterbatasan justru memicu kreativitas. Di tengah maraknya alih fungsi lahan pertanian, inovasi semacam ini layak menjadi percontohan bagi daerah lain di Jawa Timur.

Reporter: Xander Situmorang
Sumber: blokbojonegoro.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top