SULAWESI BARAT — Kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global kembali memuncak setelah prospek perdamaian antara AS dan Iran semakin menjauh. Iran menyatakan akan beralih ke posisi militer yang sepenuhnya ofensif karena perundingan dengan Washington dinilai tidak mengalami kemajuan, sebuah pernyataan yang langsung membalikkan sentimen positif di pasar minyak.
Dampak eskalasi ini langsung terlihat dari data pelacakan kapal. Hanya lima kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz pada Sabtu setelah serangkaian serangan terhadap kapal tanker, dan tidak ada satu pun kapal yang tercatat melintas pada Minggu. Angka ini kontras dengan 31 kapal yang melintas pada akhir pekan sebelumnya.
Analis Pasar Utama KCM Tim Waterer menegaskan bahwa titik rawan di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb kini menjadi pusat narasi risiko pasokan. "Kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz masih belum terlihat, dan jumlah pelayaran masih sangat terbatas," ujarnya kepada Reuters.
Risiko gangguan pasokan bertambah setelah kelompok Houthi Yaman mengklaim telah menyerang sebuah kapal militer Arab Saudi dan empat kapal pengawal di Laut Merah menggunakan rudal. Serangan ini memperluas peta konflik yang sebelumnya terfokus di kawasan Teluk, menjadikan jalur pelayaran di Laut Merah sebagai zona bahaya baru bagi kapal-kapal komersial.
Waterer menambahkan bahwa kedua titik tersebut bukan sekadar kekhawatiran sekunder. "Keduanya berada di pusat narasi risiko pasokan saat ini," katanya.
Di tengah kebuntuan diplomasi, Iran masih melakukan negosiasi dengan Oman terkait pengelolaan lalu lintas di Selat Hormuz dan mengklaim pembicaraan tersebut hampir mencapai kesepakatan. Namun, Presiden AS Donald Trump merespons proses tersebut dengan ancaman akan menyerang Oman, yang selama ini menjadi salah satu mitra keamanan AS di kawasan Teluk.
Meski prospek perdamaian memburuk, masih ada sedikit harapan diplomasi. Sejumlah laporan media menyebut Trump telah membuka komunikasi melalui jalur belakang dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Pasar kini menanti data persediaan minyak mentah AS yang akan dirilis pekan ini. Jajak pendapat awal Reuters pada Senin memperkirakan stok minyak mentah dan produk olahan AS kemungkinan turun pada pekan lalu. Jika realisasinya sesuai perkiraan, tekanan kenaikan harga berpotensi berlanjut.
Pergerakan harga ini menjadi perhatian bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak, karena berpotensi memperbesar defisit neraca dagang dan menekan nilai tukar rupiah. Investasi mengandung risiko.