Kabupaten Majene dan Polewali Mandar jadi pusat denyut budaya tertua di pesisir barat Sulawesi. Suku Mandar, yang mendiami wilayah ini, punya sistem nilai yang tertuang dalam adat istiadat—bukan sekadar seremoni, melainkan panduan hidup yang mengatur hubungan manusia dengan laut, darat, dan leluhur. Beberapa tradisi ini bahkan belum banyak ditulis di buku panduan wisata mainstream.
Sandeq bukan sekadar perahu. Bagi masyarakat Mandar, perahu layar tradisional ini dianggap makhluk hidup yang punya roh. Proses pembuatannya dimulai dari pemilihan pohon di hutan dengan ritual mappalili—meminta izin pada penunggu pohon sebelum menebang.
Setiap bagian perahu memiliki nama dan filosofi tersendiri. Layar segitiga melambangkan keteguhan, sedangkan lunas perahu menggambarkan garis hidup. Ritual mappalili dan syukuran saat perahu pertama kali menyentuh air masih rutin dilakukan di pesisir Majene dan Mamuju.
Berbeda dari tradisi panen di Jawa, Mappadendang adalah ritual memukul lesung secara berirama menggunakan alu. Warga perempuan duduk berhadap-hadapan, memukul lesung dalam pola ritme tertentu yang menghasilkan bunyi khas.
Tradisi ini bukan hanya hiburan. Irama pukulan lesung berfungsi sebagai kode komunikasi antarwarga di masa lalu—tanda panen berhasil atau ada musibah. Kini Mappadendang masih bisa disaksikan di beberapa desa di Kecamatan Wonomulyo, Polewali Mandar saat musim panen padi.
Tradisi ini unik karena menggabungkan syukuran keagamaan dengan atraksi budaya. Seorang anak yang baru selesai mengaji (khatam Al-Qur’an) diarak keliling kampung menunggang kuda yang dihias. Kuda tersebut kemudian pattu’du (menari) mengikuti irama gendang.
Prosesi ini berlangsung di Kabupaten Majene dan Polewali Mandar, biasanya pada akhir pekan antara Juni hingga Agustus. Anak-anak mengenakan busana adat lengkap, sementara warga berebut menyentuh kuda sebagai bentuk keberkahan.
Masyarakat Mandar mengenal sistem upacara kematian berjenjang. Jenazah tidak langsung dimakamkan, melainkan disemayamkan di rumah selama beberapa hari—bahkan bisa berminggu-minggu—sambil menunggu seluruh anggota keluarga berkumpul.
Selama masa penyemayaman, keluarga menyajikan makanan setiap hari dan mengadakan pembacaan doa malam. Prosesi pemakaman baru dilakukan setelah semua ritual adat terpenuhi. Praktik ini masih kuat dijalankan di daerah pedalaman Mamasa dan sebagian Kecamatan Binuang.
Sibaliparri adalah sistem gotong royong yang diterapkan saat pernikahan. Bukan sekadar bantuan tenaga, setiap tetangga dan kerabat menyumbang sesuai kemampuan—ada yang menyumbang beras, hewan ternak, atau tenaga memasak selama pesta berlangsung.
Uniknya, sumbangan ini dicatat dalam ingatan kolektif. Ketika pihak yang memberi sumbangan menggelar hajatan di masa depan, keluarga penerima wajib membalas dengan jumlah setara atau lebih. Sistem ini menjaga ikatan sosial tetap erat di komunitas Mandar.
Warga pesisir Majene dan Mamuju rutin menggelar Passandeq—ritual membuang sesajen ke laut sebagai permohonan keselamatan dari bencana. Ritual ini biasanya digelar setahun sekali, dipimpin oleh sando (dukun adat) yang membaca mantra tertentu.
Sesajen berupa nasi, telur, dan ayam panggang diletakkan di atas miniatur perahu yang kemudian dihanyutkan ke tengah laut. Warga percaya, jika perahu miniatur itu tidak kembali ke pantai, pertanda permohonan mereka diterima. Ritual ini masih lestari di Desa Pambusuang, Polewali Mandar.
Masyarakat Mandar menganut sistem kekerabatan bilateral—garis keturunan ditarik dari pihak ayah dan ibu secara setara. Ini berbeda dengan banyak suku di Indonesia yang cenderung matrilineal atau patrilineal.
Akibatnya, pembagian warisan dan status sosial tidak berat sebelah. Anak laki-laki dan perempuan punya hak yang sama. Sistem ini juga memengaruhi kepemimpinan adat: seorang pemimpin bisa berasal dari garis ibu maupun ayah, asalkan memenuhi syarat kompetensi dan integritas.
Sebelum melaut, nelayan Mandar melakukan Mappalili—membaca tanda-tanda alam seperti arah angin, posisi bintang, dan perilaku burung laut. Ritual ini dipimpin oleh punggawa (kapten kapal) yang dianggap paling paham ilmu pelayaran tradisional.
Jika tanda alam dianggap buruk, seluruh rombongan nelayan menunda pelayaran. Pengetahuan ini diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Di era modern, Mappalili mulai dipadukan dengan data cuaca dari BMKG, tapi prinsip dasarnya tetap dipegang teguh.
Apa perbedaan utama adat Mandar dengan Bugis?
Mandar lebih menekankan tradisi maritim dan sistem kekerabatan bilateral, sementara Bugis cenderung patrilineal dan punya hierarki sosial yang lebih kaku. Ritual laut seperti Passandeq juga lebih dominan di Mandar.
Apakah tradisi-tradisi ini masih dilakukan?
Masih, terutama di daerah pedesaan. Sayyang Pattu’du dan Mappadendang bahkan jadi agenda tahunan di Majene dan Polewali Mandar. Namun, beberapa ritual seperti Rambu Solo’ mulai jarang karena biaya dan perubahan gaya hidup.
Di mana tempat terbaik menyaksikan tradisi Sandeq?
Lomba Sandeq biasanya digelar di perairan Majene dan Mamuju saat Festival Sandeq tahunan. Untuk melihat proses pembuatan dan ritualnya, datanglah ke desa nelayan di Kecamatan Banggae, Majene.
Apakah wisatawan boleh ikut serta dalam ritual adat?
Beberapa tradisi seperti Mappadendang dan Sayyang Pattu’du terbuka untuk wisatawan sebagai penonton. Namun, ritual sakral seperti Passandeq dan Rambu Solo’ biasanya terbatas untuk warga setempat. Hormati aturan adat setempat.
Kapan waktu terbaik berkunjung untuk melihat tradisi ini?
Juni hingga Agustus adalah puncak acara budaya di Sulawesi Barat. Festival Sandeq, Sayyang Pattu’du, dan Mappadendang sering digelar dalam periode ini. Cek jadwal akurat ke Dinas Pariwisata setempat sebelum bepergian.
Adat istiadat Sulawesi Barat bukan sekadar tontonan. Setiap tradisi menyimpan sistem pengetahuan tentang alam, hubungan sosial, dan spiritualitas yang masih relevan hingga kini. Bagi perantau atau wisatawan, memahami adat ini bukan hanya memperkaya wawasan, tapi juga bentuk penghormatan pada masyarakat yang menjaganya tetap hidup.