MAMUJU — Perjalanan panjang Kabupaten Mamuju yang telah memasuki usia ke-486 tahun menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk mengingatkan kembali pentingnya merawat nilai-nilai sejarah. Dialog interaktif bertajuk “Merawat Sejarah, Mewujudkan Mamuju Marendeng” pun digelar di RRI Mamuju, menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan untuk membahas akar budaya dan identitas lokal.
Penjabat Kepala Tata Usaha Biro Pemkesra Setda Sulbar, Burahim, yang juga menjabat sebagai Ketua Panitia Seminar Penetapan Hari Jadi Mamuju (HIPERMAJU), menyebut refleksi sejarah bukan sekadar seremoni. Ia menekankan bahwa pemahaman akan masa lalu bisa menjadi pendorong semangat kolektif membangun daerah.
“Melalui dialog ini diharapkan masyarakat semakin memahami perjalanan sejarah Mamuju sehingga dapat menjadi motivasi bersama untuk membangun daerah yang lebih maju, berkarakter, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai budaya serta kearifan lokal,” ujar Burahim dalam dialog tersebut.
Dialog yang berlangsung interaktif itu turut membahas berbagai aspek perkembangan Mamuju, mulai dari sejarah awal berdirinya hingga tantangan pembangunan saat ini. Para narasumber yang hadir memberikan perspektif tentang bagaimana nilai-nilai lokal bisa berjalan seiring dengan modernisasi.
Di tempat terpisah, Kepala Biro Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Sulawesi Barat, Murdanil, memberikan apresiasi tinggi terhadap terselenggaranya kegiatan ini. Menurutnya, kesadaran kolektif terhadap jati diri daerah harus terus dipupuk, terutama di tengah arus perubahan zaman.
“Sejarah adalah fondasi yang harus terus dirawat. Melalui kegiatan seperti ini, kita tidak hanya mengenang perjalanan panjang Kabupaten Mamuju, tetapi juga menumbuhkan semangat kebersamaan dalam mewujudkan Mamuju yang semakin maju dan sejahtera,” ungkap Murdanil.
Ia menambahkan, Biro Pemkesra akan terus mendukung berbagai upaya pelestarian sejarah dan budaya sebagai bagian tak terpisahkan dari pembangunan daerah. Komitmen ini dinilai penting agar pembangunan tidak hanya berorientasi pada fisik, tetapi juga memperkuat identitas lokal.
Refleksi 486 tahun Mamuju menjadi pengingat bahwa daerah ini memiliki akar sejarah yang panjang. Pemerintah berharap peringatan semacam ini mampu menumbuhkan rasa memiliki di kalangan generasi muda, sekaligus memperkuat sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam menjaga warisan budaya.
Dengan adanya dialog interaktif ini, Pemprov Sulbar berharap masyarakat tidak hanya menjadi penonton dalam proses pembangunan, tetapi ikut aktif merawat nilai-nilai sejarah yang menjadi identitas bersama.