MAMUJU — Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat mengejar target ambisius di sektor pangan: menaikkan indeks pertanaman (IP) sawah dari 1,4 menjadi 2,0. Gubernur Suhardi Duka (SDK) menyebut langkah ini setara dengan mencetak 15 ribu hektare sawah baru tanpa merusak hutan.
“Kalau kita berhasil naikkan IP jadi dua, itu sama nilainya dengan mencetak sawah baru sekitar 15 ribu hektare,” ujar SDK saat membuka rakor di Aula Poltekkes Kemenkes Mamuju, Senin (13/7/2026).
Saat ini, dari total 41 ribu hektare lahan sawah di Sulbar, rata-rata petani baru panen sekali lebih sedikit dalam setahun. Kabupaten Polewali Mandar (Polman) dan Mamuju disebut sebagai penopang utama produksi beras daerah.
Rakor yang diinisiasi Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Kementan ini dihadiri ratusan penyuluh dari enam kabupaten. SDK menegaskan, peralihan status penyuluh menjadi pegawai pemerintah pusat telah memperbaiki kesejahteraan mereka.
“Dulu saat di daerah, tunjangan fungsional maupun operasional sulit naik karena kemampuan fiskal daerah yang tertekan. Sekarang gajinya di pusat, tunjangannya di pusat, operasionalnya juga di pusat,” kata SDK disambut tepuk tangan peserta.
Anggota Komisi IV DPR RI Dapil Sulbar, Ajbar, turut hadir langsung. Kepala BPPSDMP Kementan, Idha Widi Arsanti, bergabung secara virtual.
Pemprov Sulbar mendukung penuh proyek percontohan pertanian modern melalui program Advanced Agriculture System (PM-AAS) di Wonomulyo. Targetnya, produktivitas padi melonjak dari 7 ton per hektare menjadi 10–12 ton per hektare.
Namun, Gubernur mengingatkan agar lonjakan target bibit diimbangi pasokan pupuk bersubsidi yang proporsional. “Kualitas bulir padi jangan sampai kempes, harus memenuhi standar rendemen Bulog di atas 55 persen,” ujarnya.
Di luar komoditas padi, SDK menaruh perhatian pada sektor perkebunan. Pemprov mengusulkan bantuan sekitar 17 juta bibit kakao ke Kementerian Pertanian. Ia optimistis dalam lima tahun ke depan Sulbar kembali menjadi pemain utama pasokan kakao dunia.
Menutup arahannya, SDK mengingatkan penyuluh untuk terus meng-upgrade kompetensi di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan platform digital seperti YouTube.
“Banggalah menjadi penyuluh pertanian karena Anda adalah pahlawan ketahanan pangan. Jangan sampai ilmu petani kita justru lebih maju daripada penyuluhnya,” pungkas SDK.