SULAWESI BARAT — Direktur Utama BULOG, Ahmad Rizal Ramdhani, mengungkapkan bahwa total kapasitas penyimpanan yang disiapkan perusahaan saat ini mencapai 6,2 juta ton. Angka itu akan terus diperkuat seiring meningkatnya produksi padi nasional. "Stok beras yang dikelola BULOG mencapai sekitar 5,36 juta ton—stok tertinggi dalam sejarah—dengan total kapasitas simpan sekitar 6,2 juta ton," kata Ahmad dalam keterangan tertulis, Minggu (24/5/2026).
Dari sisi pengadaan, BULOG telah menyerap sekitar 2,8 juta ton beras dari target 4 juta ton pada tahun ini. Capaian ini menunjukkan peran aktif BUMN pangan itu dalam menyerap hasil panen petani sekaligus memperkuat cadangan beras pemerintah.
Menurut Ahmad, serapan itu tidak hanya menjaga ketersediaan beras, tetapi juga menstabilkan harga di tingkat produsen dan konsumen. "Penguatan swasembada pangan tidak hanya dilihat dari sisi produksi, tetapi juga dari kemampuan negara dalam menyerap hasil panen petani, menjaga cadangan pangan, memperkuat infrastruktur pascapanen, dan memastikan pangan tetap tersedia serta terjangkau," ujarnya.
Untuk menjaga momentum swasembada yang terus diperkuat sejak 2024, BULOG menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk 'Peran Kampus dalam Mewujudkan Swasembada Pangan Berkelanjutan' di Kompleks Pergudangan Utama BULOG Cimahi, Jawa Barat. Acara ini melibatkan perwakilan mahasiswa se-Bandung.
Melalui kunjungan langsung ke gudang, mahasiswa diajak memahami pengelolaan stok, kualitas beras, hingga peran infrastruktur pangan dalam menjaga ketersediaan pangan. "Mahasiswa dan kampus memiliki peran penting untuk ikut memahami, mengawal, dan mendukung agenda besar ini melalui ilmu pengetahuan, inovasi, serta kepedulian terhadap isu pangan," tambah Ahmad.
BULOG juga berencana menambah infrastruktur pascapanen di 100 titik pada tahun ini. Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang memperkuat kualitas pengelolaan hasil panen dan mempertahankan capaian swasembada.
Data Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) menempatkan Indonesia di peringkat kedua dunia dalam kenaikan produksi padi, di antara Brasil dan Myanmar. Capaian itu menjadi sinyal positif bahwa produksi dalam negeri semakin kuat dan menjadi landasan penting bagi keberlanjutan swasembada pangan nasional.
Dengan kolaborasi antara negara, BULOG, petani, akademisi, dan generasi muda, fondasi ketahanan pangan Indonesia diharapkan semakin kuat dari hulu ke hilir. BULOG menegaskan bahwa swasembada pangan berkelanjutan bukan hanya agenda pemerintah, melainkan gerakan bersama yang membutuhkan dukungan seluruh elemen bangsa.