MAMUJU TENGAH — Anjloknya harga sawit di Sulawesi Barat bukan sekadar soal turun angka. Di PT MAS Barakkang, penurunan Rp800 per kilogram dalam sehari membuat petani seperti Hermansyah harus memutar otak. "Mulai tadi di PT MAS Barakkang harga sawit turun Rp500 jadi Rp1.680 per kilogram," katanya, Jumat sore.
Penurunan itu terjadi merata di sejumlah wilayah Mamuju Tengah. Di tingkat pengepul, harganya disebut lebih rendah lagi. Hermansyah menambahkan, "Turun pak, kemungkinan masih turun katanya."
Bukan cuma harga yang jadi soal. Petani mengeluhkan antrean berhari-hari di pabrik yang membuat TBS berubah menjadi brondolan—buah lepas yang nilainya anjlok. "Bukan cuma anjlok, tapi bertruk-truk TBS jadi brondolan sebab tidak dapat masuk di timbangan," ujar Hermansyah.
Akibatnya, banyak petani memilih menunda panen. Pengepul pun mulai mengurangi pembelian karena harga di pabrik bisa berubah sewaktu-waktu sebelum buah dibongkar. "Kadang sampai lima kali kena penurunan harga, buah belum bongkar," jelasnya.
Kondisi ini memicu kecurigaan di kalangan petani. Mereka menduga ada permainan harga di tingkat industri pengolahan sawit, mengingat jumlah pabrik di Sulawesi Barat masih terbatas. "Ini akal-akalan, karena mau buka kebun baru. Jadi mereka memainkan harga agar bisa membuka kebun dengan alasan ini menambah pabrik jadi memadai," ujar petani lainnya, Aco Muliadi.
Para petani kini berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera mencari solusi. Mereka menilai anjloknya harga semakin memberatkan di tengah tingginya biaya produksi dan sulitnya akses penjualan hasil panen. Belum ada tanggapan resmi dari PT MAS Barakkang maupun Dinas Perkebunan Sulawesi Barat hingga berita ini ditulis.