Sepak bola Indonesia kembali terancam pengawasan ketat FIFA menyusul kericuhan suporter dalam laga playoff promosi Super League di Jayapura, Jumat (8/5). PSSI menyatakan keprihatinan mendalam atas aksi pembakaran flare dan invasi lapangan yang merusak fasilitas Stadion Lukas Enembe.
Insiden memilukan ini terjadi tepat saat transformasi sepak bola nasional sedang dipantau secara intensif oleh federasi internasional. Tragedi Stadion Kanjuruhan yang merenggut 135 nyawa menjadi alasan utama mengapa setiap gesekan di tribun kini berdampak sistemik terhadap reputasi Indonesia.
Sekjen PSSI, Yunus Nusi, menegaskan bahwa tindakan anarkis tersebut sangat mencederai semangat sportivitas. "Ini tentu juga menggores perjalanan sepak bola kita yang sedang dipantau dan diawasi oleh FIFA," ujarnya dalam rilis resmi, Sabtu (9/5).
Kekecewaan pendukung Persipura Jayapura memuncak sesaat sebelum laga berakhir. Stadion mulai dipenuhi asap dari flare yang dinyalakan di tribun. Begitu wasit meniup peluit panjang, massa merangsek masuk ke area lapangan hijau sehingga situasi tidak lagi terkendali.
Pemain Adhyaksa FC terpaksa dievakuasi di bawah perlindungan ketat aparat kepolisian untuk mencapai ruang ganti. Berdasarkan rekaman video yang beredar, massa juga melakukan perusakan terhadap bangku cadangan dan melempar berbagai benda ke arah pintu keluar pemain.
PSSI meminta semua pihak untuk menahan diri dan memahami bahwa hasil akhir pertandingan adalah realitas yang harus diterima. "Kita butuh kesabaran dan kesadaran bahwa menang dan kalah itu pasti terjadi di dalam sebuah pertandingan," kata Yunus Nusi menambahkan.
Federasi menekankan bahwa ketertiban di lingkungan stadion bukan hanya beban panitia pelaksana atau aparat keamanan. Suporter diharapkan memiliki kesadaran mandiri untuk saling menjaga demi kelangsungan klub kesayangan mereka dan nama baik sepak bola nasional.
Kekalahan tipis 0-1 dari tim tamu memang menjadi pil pahit bagi Persipura dalam upaya mereka kembali ke kasta tertinggi. Namun, PSSI mengingatkan bahwa kerusuhan hanya akan merugikan semua pihak tanpa memberikan keuntungan bagi klub maupun kemajuan liga.
Ke depannya, PSSI berharap stadion bisa menjadi tempat yang aman bagi keluarga. Komitmen suporter untuk menjaga ketertiban sangat dinanti agar sepak bola Indonesia bisa terus melaju tanpa bayang-bayang sanksi tambahan dari otoritas dunia.