Pemprov Sulbar Perketat Pengawasan Ikan Berformalin di PPI Binanga Mamuju

Penulis: Yanto Prasetya  •  Jumat, 08 Mei 2026 | 15:00:12 WIB
Tim PSDKP Sulbar melakukan pengawasan ketat terhadap ikan berformalin di PPI Binanga, Mamuju.

MAMUJU — Tim Bidang Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) DKP Sulbar turun langsung ke Pasar Pagi kawasan PPI Binanga, Kamis (7/5). Mereka memberikan edukasi mendalam mengenai risiko penggunaan bahan tambahan pangan ilegal pada hasil tangkapan nelayan yang beredar di pasar tradisional.

Petugas memfokuskan pengawasan pada potensi penyalahgunaan formalin, boraks, pewarna tekstil, hingga residu pestisida. Zat-zat tersebut seringkali disalahgunakan oknum tertentu untuk mempertahankan tampilan ikan agar tetap terlihat segar meski sudah disimpan lama.

Kabid PSDKP DKP Sulbar, Irwan Latif, menegaskan bahwa pengawasan rantai distribusi ikan akan dilakukan secara berkesinambungan. Pengawasan dimulai dari proses pendaratan di dermaga hingga produk sampai ke tangan konsumen akhir di pasar-pasar.

“Edukasi ini adalah langkah preventif, namun kami juga tidak segan melakukan tindakan tegas sesuai regulasi jika ditemukan oknum yang sengaja mencemari produk perikanan dengan zat berbahaya. Keamanan konsumen adalah prioritas pengawasan kami,” tegas Irwan Latif.

Waspadai Ikan Berformalin: Tekstur Kenyal Hingga Tidak Dihinggapi Lalat

Dalam sosialisasi tersebut, petugas membagikan selebaran berisi panduan praktis mengenali ciri-ciri ikan yang diduga mengandung bahan pengawet mayat. Masyarakat diminta lebih jeli sebelum melakukan transaksi pembelian di pasar.

Beberapa ciri utama yang harus diwaspadai antara lain ikan dengan tekstur daging yang terlalu kenyal dan bagian insang yang berwarna pucat. Selain itu, ikan yang mengandung bahan kimia biasanya mengeluarkan aroma menyengat yang tidak alami.

Indikator lain yang paling mudah dikenali adalah kondisi fisik ikan yang tetap bersih dari lalat meskipun diletakkan di ruang terbuka dalam waktu lama. Konsumsi jangka panjang terhadap zat-zat ini berisiko memicu kerusakan organ vital seperti ginjal, hati, hingga gangguan sistem saraf pusat.

Keamanan Pangan Jadi Syarat Mutlak Peningkatan Ekonomi Nelayan

Kepala DKP Sulbar, Safaruddin, memandang penguatan standar keamanan pangan sebagai investasi jangka panjang bagi kesejahteraan nelayan. Kepercayaan pasar terhadap kualitas ikan lokal menjadi modal utama untuk menembus sektor ritel modern maupun pasar ekspor.

“Keamanan pangan adalah harga mati bagi kami di DKP. Lewat edukasi rutin ini, kita ingin membangun ekosistem perikanan yang jujur dan sehat. Jika kepercayaan konsumen meningkat, maka nilai jual produk nelayan kita juga akan naik,” kata Safaruddin.

Murni (44), salah satu pedagang di PPI Binanga, mengklaim bahwa para pedagang setempat tetap mengandalkan metode pengawetan alami. Menurutnya, stok ikan biasanya habis dalam hitungan hari sehingga tidak memerlukan bahan kimia tambahan.

“Kalau bahan berbahaya seperti formalin atau boraks, kami di sini tidak pernah pakai. Begitu ikan naik dari kapal, langsung dijual. Jika ada sisa, kami pakai es batu saja seperti biasa,” ungkap Murni.

Upaya pengawasan ini mendapat respons positif dari masyarakat setempat. Fadli (37), seorang konsumen, mengaku lebih tenang setelah mendapatkan penjelasan mengenai cara membedakan ikan yang sehat dan yang mengandung zat berbahaya.

Reporter: Yanto Prasetya
Sumber: reportase.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top