SULAWESI BARAT — Kiki Gyan mungkin asing bagi generasi baru, tetapi jejaknya dalam sejarah musik Afrika tak terhapuskan. Ia adalah keyboardis jenius yang namanya melambung di usia belasan tahun bersama Osibisa, band pelopor Afro-rock yang musiknya memenuhi ruang keluarga Ghana era 1970-an. Namun di balik kejeniusannya, ada kisah pilu yang kerap mereduksi seluruh hidupnya menjadi catatan kaki tentang kecanduan dan kematian.
Fenomena inilah yang mendorong Aseye Fiagbe, sutradara sekaligus produser melalui rumah produksinya, Aseye Fiagbe Creative Studio, untuk menggali lebih dalam. Lewat film dokumenter Too Much Music, Fiagbe tidak berniat menyajikan narasi heroik atau "jalan cerita pemulihan" yang rapi. Ia justru ingin menampilkan kompleksitas hidup Gyan: kecemerlangan, kegagalan, eksploitasi, dan warisan yang ditinggalkannya dalam satu bingkai yang jujur.
Dari Soundtrack Minggu Pagi Menjadi Kisah yang Mengganggu
Ketertarikan Fiagbe pada Gyan berawal dari pengalaman personal. "Saya tumbuh dengan Osibisa sebagai soundtrack Minggu sore di rumah saya," kenangnya. Namun pengetahuan awalnya tentang Gyan sangat dangkal. "Kisah yang saya tahu tentang Kiki Gyan pada dasarnya adalah kisah tentang bagaimana dia meninggal. Dia adalah anak ajaib yang kecanduan narkoba, kehilangan segalanya, dan meninggal di kamar mandi sebuah gereja. Itulah ceritanya."
Kesenjangan informasi ini menjadi pemicu riset panjang. "Saat dewasa, saya mulai menemukan betapa banyak musik yang sebenarnya dia buat dan betapa sedikit yang saya ketahui. Saya menyadari bahwa, seperti banyak orang Ghana lainnya, saya tahu akhir hidupnya sebelum benar-benar mengenal karyanya. Itu mengganggu saya," ujar Fiagbe.
Kisah Universal tentang Eksploitasi dan Kontrol Narasi
Too Much Music bukan sekadar biografi musisi. Film ini menyoroti bagaimana sistem industri musik yang sama yang diuntungkan oleh kejeniusan Gyan justru abai terhadap kerentanannya. Ketika kontribusi musiknya kian luas tanpa pengakuan yang setimpal, ketegangan soal kredit dan kepemilikan karya membuatnya hengkang dari Osibisa dan memulai karier solo di London, Lagos, dan New York, membentuk genre disco dan funk Afrika dalam prosesnya.
Meski berlatar sejarah musik Ghana dan Afrika yang spesifik, pertanyaan yang diajukan film ini bersifat universal. "Apa yang terjadi ketika bakat datang sebelum seseorang siap menghadapi segala hal yang menyertainya? Siapa yang mendapat kredit atas karya kreatif? Bagaimana kita memperlakukan orang ketika mereka jatuh dari tumpuan yang kita buat sendiri?" tanya Fiagbe. "Dan siapa yang berhak menentukan apa yang tersisa dari seseorang setelah dia tiada? Saya rasa Anda tidak perlu mengenal Kiki Gyan atau Osibisa untuk mengenali pertanyaan-pertanyaan itu."
Membangun Jembatan Produksi Internasional dari Locarno
Keikutsertaan Too Much Music dalam program Open Doors di Locarno Film Festival menjadi titik balik penting bagi produksi. Proyek ini tidak hanya mendapat kesempatan untuk dipresentasikan di hadapan pembuat kebijakan dan calon mitra, tetapi juga membawa pulang salah satu dari tiga Open Doors Grants yang diberikan.
Bagi Fiagbe, penghargaan ini adalah momentum untuk memperluas jaringan produksi. "Open Doors memberi dorongan nyata bagi proyek ini, melalui percakapan yang kami lakukan, koneksi yang terjalin, dan penghargaan yang memberi kami ruang untuk melanjutkan pengembangan," jelasnya. Riset dan penulisan naskah masih terus berjalan, terutama untuk segmen yang berlokasi di London, Lagos, dan Amerika Serikat. Fokus utama berikutnya adalah menemukan hubungan co-production yang tepat dan membangun struktur produksi internasional yang solid untuk film ini.
Kisah Kiki Gyan adalah pengingat keras bahwa ingatan publik sering kali dibentuk oleh siapa yang memegang kendali atas narasi. Melalui film ini, Fiagbe berupaya mengembalikan kendali itu ke tangan sang musisi, satu rekaman arsip dan satu kesaksian keluarga pada satu waktu.