Crystal Palace vs Newcastle: Dua Pelatih Baru Berjuang Cari Bentuk Permainan

Penulis: Vino Bastian  •  Jumat, 23 Oktober 2026 | 21:03:31 WIB
Pierre Sage dan Matthias Jaissle memimpin sesi latihan jelang laga Crystal Palace vs Newcastle di Selhurst Park.

SULAWESI BARAT — Crystal Palace dan Newcastle United bertemu di Selhurst Park dengan dua pelatih baru yang belum menemukan performa stabil. Pierre Sage dan Matthias Jaissle sama-sama diterpa masalah cedera, taktik, dan tekanan hasil buruk di awal musim Premier League.

Palace telah kebobolan 17 gol dalam tujuh pertandingan Premier League musim ini, catatan yang jauh dari harapan manajemen maupun pendukung. Transisi dari formasi 3-4-2-1 serangan balik Oliver Glasner ke pendekatan agresif Pierre Sage membuka celah besar di lini belakang. Puncaknya adalah kekalahan memalukan di Brighton pekan lalu.

Di Tyneside, Newcastle juga bergulat dengan gejolak besar. Klub melepas tiga pemain terbaiknya, Sandro Tonali, Anthony Gordon, dan Bruno Guimaraes, dalam satu jendela transfer. Delapan pemain didatangkan, empat di antaranya berusia 20 tahun ke bawah dan hanya Nico Gonzalez yang punya pengalaman Premier League.

Palace Kehilangan Soliditas di Bawah Sage

Penggemar Palace terbiasa dengan kesuksesan di era Glasner dan kini mulai melirik cemas ke zona degradasi. Dua kemenangan liga bersama Sage, melawan Fulham dan Nottingham Forest, pun sebenarnya bisa berakhir dengan kekalahan. Sage disebut sempat berselisih dengan chairman Steve Parish setelah gagal mendatangkan beberapa target buruannya pada musim panas.

Keputusan Sage memecah duet Adam Wharton dan Daichi Kamada di lini tengah berdampak besar. Kedatangan Quinten Timber pada hari terakhir bursa transfer menambah energi, tetapi Wharton justru kesulitan secara defensif. Palace tampil jauh lebih solid saat Wharton dan Kamada bermain bersama melawan Besiktas di Europa League.

Tekanan Kursi Sage Semakin Nyata

Posisi Sage dilaporkan sangat rentan. Ia diperingatkan setelah kekalahan dari Brighton bahwa hasil harus segera membaik atau ia akan dicoret. Parish dikabarkan belum sepenuhnya yakin pada pelatih yang membawa Lens juara Piala Prancis musim lalu itu.

Laga melawan Newcastle menjadi penentu masa depan Sage. Nama Thomas Frank dan Kieran McKenna muncul sebagai kandidat pengganti. Ipswich disebut bakal menuntut kompensasi besar untuk McKenna, yang menjadi hambatan utama.

Newcastle: Honeymoon Jaissle Sudah Berakhir

Tekanan internal terhadap Jaissle terbilang kecil. Newcastle membayar kompensasi 9,5 juta poundsterling ke Al-Ahli untuk mendatangkannya, dan manajemen percaya pada pendekatan kolaboratif pelatih 38 tahun asal Jerman itu. CEO David Hopkinson dan direktur olahraga Ross Wilson menilai Jaissle baru menjalani musim pertamanya di Premier League tanpa pramusim yang layak.

Namun ekspektasi pemilik asal Arab Saudi untuk kembali ke kompetisi Eropa tetap tinggi. Sebagian penggemar menilai sepak bola Jaissle kuno, umpan panjang primitif dengan nama keren, dan sistem serta pilihan pemainnya dianggap keliru.

Keyakinan Jaissle pada formasi 4-2-3-1 menyerang dengan nomor 10 klasik tidak didukung materi pemain. Newcastle tidak punya playmaker serang alami, sementara Gonzalez sebagai gelandang bertahan kerap kewalahan. Malick Thiaw dan Sven Botman juga kesulitan di jantung pertahanan.

Rekor Clean Sheet dan Pilihan Taktik

Newcastle belum mencatat clean sheet liga dalam 13 pertandingan, menyamai rekor klub. Enam di antaranya terjadi di era Eddie Howe. Pergeseran ke 3-5-2 yang lebih stabil dan pendekatan bertahan lalu menyerang balik dinilai lebih cocok memanfaatkan kecepatan lini depan.

Palace juga menghadapi masalah di luar kendali Sage. Bursa transfer berakhir kacau dengan skuad membengkak tetapi minim kepemimpinan di belakang setelah Maxence Lacroix dijual ke Chelsea. Axel Disasi menjalani larangan tiga pertandingan akibat kartu merah ceroboh melawan Ipswich.

Duel di Selhurst Park menjadi cermin dua proyek yang belum matang. Bagi Sage, hasil buruk bisa berujung pemecatan. Bagi Jaissle, tekanan eksternal menuntut bukti bahwa "sepak bola vertikal"-nya bukan sekadar umpan panjang tanpa arah.

Reporter: Vino Bastian
Sumber: theguardian.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top