Bulog Ganti Kemasan Beras SPHP Jadi Beras Kita Medium, Harga Tetap Rp12.500 per Kg

Penulis: Xander Situmorang  •  Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:35:31 WIB
Perum Bulog meluncurkan kemasan baru beras SPHP dengan identitas Beras Kita Medium di Bantul, Selasa (20/10/2026).

SULAWESI BARAT — Perum Bulog resmi meluncurkan kemasan baru beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dengan identitas Beras Kita Medium di Bantul, Selasa (20/10/2026). Perubahan identitas ini dilakukan untuk memperkuat pengenalan produk pangan pemerintah di tengah persaingan beras komersial. Harga jualnya tetap mengikuti ketentuan HET program SPHP, mulai Rp12.500 per kilogram untuk Zona 1.

Perum Bulog meluncurkan kemasan baru beras SPHP dengan nama Beras Kita Medium di Balai Kalurahan Potorono, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (20/10/2026). Peluncuran bertepatan dengan dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Acara itu digelar bersama Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto atau Titiek Soeharto dan Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani.

Rencana perubahan nama sebenarnya sudah diumumkan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau Zulhas pada September 2026. Zulhas menyetujui desain dan warna kemasan baru yang dinilai lebih menarik. Kini rencana itu terealisasi dengan peluncuran resmi di Bantul.

Bukan Sekadar Ganti Nama dan Kemasan

Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menegaskan perubahan ini tidak berhenti pada nama dan tampilan kemasan. Menurutnya, Beras Kita Medium membawa semangat menghadirkan beras berkualitas dengan harga terjangkau bagi masyarakat. Identitas baru itu juga diharapkan memperkuat kepercayaan terhadap produk pangan pemerintah.

Penggunaan kata "Kita" mengikuti pola penamaan produk pangan pemerintah lainnya, seperti Minyakita dan Gula Manis Kita. Nama itu merupakan akronim dari Keluarga Indonesia Sejahtera. Harapannya, kebutuhan pangan keluarga Indonesia dapat terpenuhi dengan baik.

Kemasan baru tersedia dalam ukuran lima kilogram. Desainnya mengangkat unsur patriotisme, hamparan sawah, dan perjuangan petani sebagai gambaran kekayaan pertanian Indonesia. Unsur itu sekaligus menegaskan pentingnya ketahanan pangan nasional.

Harga Tetap Mengikuti HET SPHP

Meski identitas berubah, fungsi beras SPHP tidak bergeser. Program itu tetap ditujukan menjaga stabilitas pasokan dan harga beras agar masyarakat memperoleh bahan pangan pokok dengan harga yang ditetapkan pemerintah. Tulisan SPHP masih tercantum di kemasan baru dengan ukuran lebih kecil.

Dari sisi harga, Beras Kita Medium mengikuti ketentuan harga eceran tertinggi (HET) program SPHP yang berlaku. Harga ditetapkan Rp12.500 per kilogram untuk Zona 1, Rp13.100 per kilogram untuk Zona 2, dan Rp13.500 per kilogram untuk Zona 3. Ketentuan itu menjadi kunci keterjangkauan beras, terutama bagi masyarakat yang membutuhkan harga lebih rendah dibanding produk komersial.

Beras Premium Juga Disatukan

Langkah serupa diterapkan pada beras premium. Produk yang sebelumnya memakai sejumlah merek, termasuk Befood dan Punokawan, diarahkan ke identitas Beras Kita Premium. Bulog ingin menyatukan identitas produk berasnya agar lebih mudah dikenali masyarakat.

Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto mengapresiasi inovasi Bulog. Ia berharap kemasan baru meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap beras program pemerintah. Dukungan terhadap hasil pertanian dalam negeri juga diharapkan ikut menguat.

Namun, keberhasilan perubahan identitas tidak cukup diukur dari tampilan kemasan. Ketersediaan stok, kualitas beras, pemerataan distribusi, dan kepatuhan terhadap ketentuan harga tetap menjadi faktor utama yang menentukan manfaat program bagi masyarakat. Bulog sendiri memegang peran penting dalam menyerap hasil panen petani, mengelola cadangan beras pemerintah, dan menyalurkan beras untuk stabilitas pangan nasional.

Peluncuran Beras Kita Medium diharapkan memudahkan masyarakat mengenali beras program SPHP. Pengawasan distribusi dan harga perlu terus diperkuat agar perubahan ini tidak berhenti sebagai pembaruan merek, melainkan memberi manfaat nyata bagi konsumen dan petani Indonesia.

Reporter: Xander Situmorang
Sumber: informasi-realita.net This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top