SULAWESI BARAT — Langkah tersebut ditempuh untuk menggantikan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) pada pembangkit yang sebenarnya sudah dapat menggunakan gas. Selain itu, proyek ini memperkuat keandalan pasokan energi primer dan sistem kelistrikan di kawasan Nusa Tenggara.
Direktur Gas dan BBM PLN EPI Erma Melina Sarahwati menyampaikan hal itu dalam audiensi dengan Pemerintah Kota Mataram. Menurutnya, pengembangan infrastruktur LNG diperlukan karena karakteristik geografis dan sistem kelistrikan Nusa Tenggara berbeda dengan wilayah yang telah terhubung jaringan pipa gas.
Di Lombok, belum terdapat pasokan gas langsung dari sisi hulu. Kondisi ini membuat infrastruktur midstream menjadi keharusan untuk membawa gas hingga ke pembangkit.
"Untuk kasus Lombok, karena tidak ada pasokan gas yang langsung dari upstream, kita harus mengembangkan midstreamnya supaya kita bisa menyediakan sumber gas untuk pembangkit di Lombok," kata Erma.
Pada tahap awal, jaringan logistik LNG tersebut akan melayani lima lokasi pembangkit, yakni PLTMG Lombok Peaker, PLTMG Lombok-2 Sambelia, Sumbawa, Flores, dan Maumere. Kebutuhan gas rata-rata untuk seluruh jaringan mencapai 39,8 BBTUD.
Menurut Erma, substitusi BBM ke gas akan meningkatkan efisiensi penggunaan energi primer sekaligus menekan emisi.
"Pembangkit-pembangkit yang sebenarnya bisa menggunakan gas dan selama ini masih menggunakan BBM, ini bisa kita ganti sumbernya dengan gas. Selain lebih efisien, gas juga lebih bersih dibandingkan BBM," ujar Erma.
Untuk menopang distribusi LNG, PLN EPI menyiapkan satu LNG carrier berkapasitas 22.000 CBM dengan waktu perjalanan satu siklus atau roundtrip sekitar 10 hari. Kapal tersebut akan mendistribusikan LNG secara bergilir ke lima lokasi dalam jaringan Nusa Tenggara.
Di sisi penerima, PLTMG Lombok Peaker direncanakan dilengkapi unit tangki berkapasitas 8.000 m3 dengan kapasitas regasifikasi 32,07 MMSCFD. PLTMG Lombok-2 di Sambelia disiapkan dengan tangki 5.000 m3 dan kapasitas regasifikasi 23,75 MMSCFD.
Fasilitas di Sumbawa direncanakan memiliki kapasitas tanki 7.500 m3 dengan kapasitas regasifikasi 29,29 MMSCFD. Flores dengan kapasitas tanki penyimpanan 2.500 m2 dan kapasitas regasifikasi 19,08 MMSCFD, sedangkan kapasitas penyimpanan LNG di Maumere adalah 4.500 m3 dan kapasitas regasifikasi 9,50 MMSCFD.
Erma menjelaskan, infrastruktur midstream menjadi elemen penting untuk menghubungkan sumber LNG dengan pembangkit yang secara geografis tidak dapat dijangkau jaringan pipa gas.
"Kalau gas menggunakan gas pipa, itu harus dekat antara sumber pasokan gas dengan sumber pembangkit. Karena itu, untuk wilayah seperti Lombok kita perlu membangun infrastrukturnya agar gas bisa sampai ke pembangkit," jelasnya.
Secara keseluruhan, pengembangan Cluster Nusa Tenggara direncanakan mencakup sembilan onshore gasification unit dan dua kapal LNG. Melalui skema tersebut, LNG dikirim dari sumber pasokan menggunakan kapal, kemudian disimpan dan diregasifikasi di masing-masing lokasi sebelum disalurkan ke pembangkit.
Infrastruktur ini membentuk rantai pasok LNG yang terintegrasi dari sumber, transportasi, penyimpanan hingga pemanfaatan di pembangkit. Dampak langsungnya adalah penghematan BBM sekaligus menjaga keandalan sistem kelistrikan di Lombok.
"Kalau midstream gasnya sudah tersedia, selain bisa menghemat BBM, tentu juga bisa menjaga keandalan dari sistem kelistrikan di Lombok," katanya.
Sekretaris Daerah Kota Mataram Lalu Alwan Basri menyambut pengembangan infrastruktur energi tersebut. Ia menilai koordinasi dengan PLN penting untuk memastikan pembangunan berjalan sejalan dengan kebutuhan daerah.
"Alhamdulillah, sudah cukup lama kerja sama kita berjalan. Kita juga selalu berkoordinasi dengan teman-teman PLN. Kerja sama yang ada selama ini berjalan dengan bagus," kata Alwan.
Pemerintah Kota Mataram terbuka terhadap pengembangan kolaborasi dengan PLN EPI, terutama program yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
"Yang paling penting, setiap pengembangan program di Mataram harus memberikan manfaat semaksimal mungkin bagi masyarakat. Karena itu, kita perlu mengelaborasikan program selanjutnya bersama PLN, termasuk memastikan keberlanjutan usaha dan kepentingan masyarakat di sekitar wilayah kegiatan," katanya.
Proyek ini menjadi bagian dari upaya PLN Group memperluas pemanfaatan gas di wilayah yang belum tersentuh jaringan pipa. Jika berjalan sesuai jadwal, Nusa Tenggara akan memiliki rantai pasok LNG sendiri pada awal 2029, mengurangi ketergantungan pada BBM yang harganya lebih rentan terhadap fluktuasi global.