SULAWESI BARAT — Kekalahan dari City diwarnai permintaan maaf resmi Pro Ref kepada United terkait gol kemenangan Erling Haaland yang mereka akui sebagai "an error of judgement". Namun di Carrington, evaluasi jauh lebih dalam dari sekadar insiden wasit itu.
Carrick sendiri mengakui posisinya tidak nyaman. Pekan lalu ia masih membela raihan empat poin dari tiga laga saat melawan Everton. Kini, dengan empat poin dari empat pertandingan, ia mengakui "there is no getting away" dari kenyataan bahwa hasil itu di bawah ekspektasi.
Satu-satunya kemenangan United musim ini datang di kandang melawan tim promosi Ipswich. Selebihnya, pertanyaan soal rekrutmen, pemilihan pemain, pergantian, taktik, hingga sosok Carrick sendiri mulai mengemuka.
United akan menjamu Brighton di Carabao Cup pada 16 September, lalu bertandang ke Fulham empat hari berselang. Dua laga itu menjadi penentu sebelum jeda internasional tiga pekan yang berpotensi diisi gelombang evaluasi eksternal soal apa yang salah di Old Trafford.
"We don't need a break or a restart. We've just got to move on and get winning again," ujar Carrick.
Pelatih baru City, Enzo Maresca, mengakui kartu merah Phil Foden mempersulit timnya. Tapi ia juga menjelaskan mengapa kondisi itu sama sulitnya bagi United.
"They are a team that loves transitions and space in behind. With 10 players, we just dropped and waited for them, so we didn't concede any transitions and didn't concede any space in behind. That is why the game became more difficult for us and for them," kata Maresca.
Sejak era Jose Mourinho lebih dari satu dekade lalu, United dikenal efektif sebagai tim counter-attacking. Ole Gunnar Solskjaer ingin mengubahnya, tapi tak pernah benar-benar sampai. Hal serupa berlaku untuk Erik ten Hag dan Ruben Amorim, yang datang setelah sukses di liga domestik tempat tim mereka mendominasi lawan.
Sebagai pemain, Carrick dikenal gemar menguasai bola dan enggan kehilangan possession. Wajar jika ia menginginkan hal yang sama dari anak asuhnya. Tapi menjaga bola berbeda dari memiliki visi dan skill untuk menciptakan peluang melawan lawan yang sengaja duduk dalam dan menjaga bentuk pertahanan.
Strategi rekrutmen musim panas United berpusat pada lini tengah. Namun dengan Youri Tielemans yang belum menemukan performa terbaik, Carlos Baleba yang belum debut, dan Andrey Santos yang dicadangkan setelah laga pembuka di Hull serta tidak dipakai sama sekali melawan City, dampak keseluruhan belanja £155 juta (sekitar Rp3,2 triliun) masih terbatas.
Rangkaian 41 laga start beruntun Luke Shaw di Premier League juga berakhir, tanpa ada pelapis baru di posisi bek kiri seperti yang diharapkan banyak pengamat.
Masuknya penyerang Belanda Joshua Zirkzee — yang sepanjang musim panas tersedia untuk transfer — menggantikan Marcus Rashford tujuh menit sebelum bubaran, sebagai salah satu dari hanya dua pemain pengganti United, memberi indikasi jelas bahwa kedalaman skuad Carrick belum sesuai kebutuhan.
Bruno Fernandes meraih penghargaan PFA dan Football Writers' Player of the Year musim lalu berkat sembilan gol dan rekor 22 assist di Premier League. Musim ini, ia sudah mencetak tiga gol tapi baru satu assist. Catatan golnya bagus, catatan assist-nya tidak. Yang lebih penting, dampak keseluruhannya terlihat menurun.
Sejumlah pengamat menilai Fernandes tampak lelah melawan City. Ini memperkuat pertanyaan soal keterlibatannya di laga Liga Champions melawan juara Azerbaijan, Sabah FK. Meski peringkat lawan rendah, wajar Carrick tak mau ambil risiko saat United kembali ke kompetisi elite Eropa setelah dua tahun absen.
Tapi dengan tim unggul tiga gol saat turun minum dan hanya ada jeda tiga hari menuju laga City, keputusan Carrick membiarkan kaptennya bermain penuh 90 menit sambil memakai kelima pergantian terasa membingungkan. Kontrak Fernandes memasuki tahun terakhir, dengan opsi perpanjangan hingga musim panas 2028. Ketergantungan berlebih pada satu pemain menjadi kekhawatiran tersendiri.
Carrick diangkat sebagai pelatih kepala permanen dengan kontrak dua tahun pada Mei, setelah mencatat 12 kemenangan dari 17 laga saat menjadi caretaker menyusul pemecatan Amorim.
Banyak yang menilai Carrick layak mendapat kesempatan penuh. Sebagian lain menyebutnya mirip penunjukan Solskjaer pada 2019, yang juga datang setelah impresif sebagai interim. Rekor Solskjaer sebenarnya layak — ia satu-satunya pelatih United pasca Sir Alex Ferguson yang membawa dua finis tiga besar berturut-turut.
Namun pelatih asal Norwegia itu tak pernah lepas dari tuduhan bahwa ia bukan sosok yang tepat untuk membawa United kembali ke puncak. Carrick kini menghadapi ujian serupa, dan jawabannya harus ia berikan di lapangan dalam sepekan ke depan.