SULAWESI BARAT — Proyeksi itu disampaikan Direktur Pemasaran Ritel PT Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, dalam acara media gathering di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Jumat (11/9). Menurut Eko, belum ada indikasi penurunan harga minyak dunia yang bisa meredam tekanan terhadap harga jual BBM nonsubsidi.
Eko menilai krisis energi kali ini lebih berat dibanding gejolak akibat konflik Rusia-Ukraina. Pemblokiran Selat Hormuz menjadi pemicu utama rentetan dampak yang meluas ke berbagai negara.
"Perang di Timur Tengah, di Selat Hormuz ini, ternyata dampaknya secara global selain ketersediaan energi di dunia, itu juga harga yang saat ini belum stabil ya," ucap Eko.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis bagi distribusi minyak mentah dunia. Gangguan di kawasan tersebut langsung memukul sisi pasokan dan memicu lonjakan harga di pasar internasional.
Di pasar global, harga minyak mentah kembali melampaui ambang US$100 per barel dan diperkirakan menutup pekan di atas posisi tersebut untuk pertama kalinya dalam hampir empat bulan.
Mengutip Reuters pada Jumat (11/9), patokan Brent naik US$1,05 atau 1 persen ke posisi US$108,68 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) asal AS menguat 95 sen atau 1 persen menjadi US$103,45 per barel.
Sehari sebelumnya, Kamis (10/9), kedua jenis minyak mentah itu sempat meroket melebihi 6 persen. Secara kumulatif mingguan, Brent dan WTI tercatat melonjak mendekati 13 persen, mencetak laju kenaikan tertinggi sejak 17 Juli lalu.
Pertamina berharap nilai tukar komoditas minyak dunia dapat melandai kembali ke kisaran US$60 hingga US$70 per barel seperti era sebelum krisis geopolitik.
"Kalau berharap turun 70 dolar per barel atau 60 dolar per barel sebelum terjadinya krisis geopolitik, ya kita doakan mungkin semoga itu bisa terjadi dalam waktu segera karena kalau tidak kondisi ini akan berdampak seperti sekarang," ujar Eko.
Estimasi Rp18 ribu hingga Rp20 ribu per liter itu berlaku untuk BBM nonsubsidi, termasuk Pertamax, Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite. Harga jual di tiap daerah bisa berbeda karena dipengaruhi pajak daerah dan biaya distribusi.