SULAWESI BARAT — Pernah merasa lampu hijau di satu persimpangan terasa berumur panjang, sementara di lokasi lain langsung berubah merah? Fenomena ini bukan kebetulan, melainkan hasil perhitungan sistem yang dipasang di tiap titik. Korlantas Polri melalui unggahan Instagram @korlantaspolri.ntmc, Senin (24/8), memaparkan tiga metode utama yang dipakai untuk mengatur ritme kendaraan.
Metode paling umum adalah fixed time control. Lampu menyala bergantian berdasarkan pengaturan waktu yang sudah ditentukan sebelumnya, biasanya disesuaikan dengan jam-jam tertentu.
Contoh nyatanya terlihat pada pagi hari. Durasi lampu hijau menuju pusat kota sengaja dibuat lebih panjang dibandingkan arah sebaliknya. Langkah ini diambil demi mengakomodasi volume kendaraan pekerja yang memadati jalan pada jam berangkat.
Sistem kedua memanfaatkan teknologi adaptive actuated control. Di sini, lampu bekerja dinamis berdasarkan kondisi nyata di lapangan, bukan pakem waktu.
Sensor berupa kamera CCTV atau kabel yang ditanam di bawah aspal bertugas menghitung panjang antrean kendaraan secara real-time. Jika sebuah ruas jalan terpantau sepi, lampu hijau akan muncul lebih cepat. Sebaliknya, saat antrean mengular, durasi hijau otomatis diperpanjang hingga kepadatan terurai.
Jenis ketiga adalah sistem kendali pusat atau ATCS. Seluruh persimpangan yang terhubung dipantau langsung oleh petugas di ruang kontrol seperti TMC, RTMC, atau NTMC melalui layar monitor.
Pengaturan manual jarak jauh ini biasanya hanya dipakai dalam situasi darurat. Misalnya, terjadi kemacetan parah di luar perkiraan atau ada kendaraan prioritas seperti ambulans dan mobil pemadam kebakaran yang harus melintas. Petugas bisa langsung mengintervensi dan mengubah lampu menjadi hijau demi memberi jalan.
Ketiga sistem ini bekerja dengan tujuan sama: menjaga arus lalu lintas tetap bergerak. Perbedaannya hanya pada tingkat fleksibilitas dan kecepatan respons terhadap perubahan kondisi di jalan.