SULAWESI BARAT — Rumor akuisisi yang beredar di media sosial telah memicu pergerakan harga saham yang tidak wajar pada dua emiten besar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi dari manajemen PT Bayan Resources Tbk maupun PT Jhonlin Agro Raya Tbk mengenai kebenaran isu tersebut.
Pada perdagangan intraday Selasa (18/8) pukul 14.53 WIB, harga saham BYAN melonjak 19,97% ke level Rp 17.275 per lembar. Dalam lima hari terakhir, saham tambang batu bara milik Low Tuck Kwong ini tercatat naik 43,66%.
Sementara itu, saham JARR milik Andi Syamsuddin Arsyad (Haji Isam) terbang hingga batas atas atau ARA 24,88% ke level Rp 2.510. Kapitalisasi pasar emiten perkebunan sawit itu mencapai Rp 23,17 triliun, dengan penguatan 31,41% dalam sepekan terakhir.
Isu ini menguat setelah beredar kabar pertemuan antara Low Tuck Kwong dan Norman Joesoef di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Norman Joesoef merupakan pendiri sekaligus chairman Republikorp, perusahaan swasta yang bergerak di industri pertahanan strategis dan teknologi militer.
Yang membuat rumor ini terasa masuk akal adalah komposisi kepemilikan saham BYAN. Low Tuck Kwong menggenggam 40,25% saham, dan putrinya Elaine Low memiliki 22%. Jika ditotal, kepemilikan Low dan putrinya memang mencapai 62,25%—angka yang nyaris sama dengan persentase akuisisi yang disebut dalam isu yang beredar.
Head of Research and Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengingatkan investor untuk berhati-hati terhadap lonjakan saham yang dinilai tidak wajar ini. Menurutnya, pola serupa pernah terjadi sebelumnya dan kerap berakhir mengecewakan investor.
"Tapi again ya, harus tetap dilindungi (investor) juga kan? Jangan sampai mereka akhirnya rugi. Jadi Mirae Asset kan juga kasih edukasi kan setiap minggu, tapi tetap aja mereka (sebagian investor ritel) pada dasarnya senang yang kayak gitu (saham naik cepat)," kata Rully di Jakarta, Selasa (18/8).
Rully juga menyayangkan minimnya respons dari Bursa Efek Indonesia terhadap pergerakan saham yang tidak biasa ini. Ia menilai bursa perlu lebih komunikatif dan aktif memberikan penjelasan kepada investor, bukan hanya membiarkan spekulasi berkembang tanpa informasi yang transparan.
Katadata.co.id telah meminta konfirmasi kepada manajemen PT Jhonlin Agro Raya Tbk, namun hingga berita ini ditayangkan belum ada tanggapan. Tidak adanya pernyataan resmi dari kedua perusahaan justru menjadi sinyal bahwa isu ini masih sebatas spekulasi pasar.
Pola pergerakan saham yang didorong rumor tanpa konfirmasi resmi biasanya berisiko tinggi. Investor ritel yang memburu saham di harga puncak berpotensi mengalami kerugian signifikan jika kabar tersebut tidak terbukti atau justru dibantah oleh manajemen.
Sebelum mengambil keputusan, ada baiknya menunggu keterbukaan informasi resmi dari BEI atau pernyataan dari manajemen BYAN dan JARR. Keputusan membeli saham berdasarkan isu yang belum terverifikasi adalah keputusan spekulatif murni, bukan keputusan investasi yang sehat.