Ekonomi Kreator Diprediksi Tembus Rp 9.000 Triliun, Kampus AS Siapkan Lulusan Jadi Influencer Profesional

Penulis: Yanto Prasetya  •  Rabu, 05 Agustus 2026 | 10:48:31 WIB
Kampus di Amerika Serikat mulai menyiapkan lulusan untuk berprofesi sebagai pembuat konten digital seiring proyeksi nilai ekonomi kreator global mencapai Rp9.017 triliun pada 2027.

SULAWESI BARAT — Langkah ASU dan Syracuse merefleksikan pergeseran besar pasar tenaga kerja. Generasi muda kini tidak lagi memandang profesi pembuat konten sebagai sekadar hobi, melainkan jalur karier yang layak secara finansial. Bank investasi Goldman Sachs memperkirakan nilai creator economy secara global dapat mencapai hampir US$500 miliar atau setara Rp9.017,50 triliun (asumsi kurs Rp18.035 per dolar AS) pada 2027.

Kurikulum yang Menjawab Kebutuhan Industri, Bukan Sekadar Jadi Selebgram

Program sarjana yang diluncurkan ASU tidak hanya berfokus pada profesi influencer. Di situs resminya, kampus tersebut menyebut program ini ditujukan bagi mereka yang "bermimpi memonetisasi kanal video atau menjadikan media sosial sebagai karier." Mahasiswa juga dipersiapkan untuk bekerja di bidang brand storytelling, podcast, hingga produksi konten digital.

Beberapa mata kuliah yang ditawarkan bahkan terbilang spesifik, seperti How to Become an Influencer, serta proyek akhir di Los Angeles Content Creation Studio milik kampus. Syracuse University mengambil pendekatan berbeda dengan membuka program minor lintas disiplin pada musim gugur tahun ini, dirancang untuk membekali mahasiswa menghadapi karier di bidang kewirausahaan digital hingga industri pendukung ekonomi kreator.

Personal Branding Jadi Nilai Jual di Pasar Kerja Konvensional

Menariknya, minat terhadap ekonomi kreator tidak selalu berarti ingin tampil sebagai figur publik. Direktur Eksekutif Center for the Creator Economy Syracuse University Ryan Schram mengatakan, "Banyak mahasiswa yang kami ajak bicara menginginkan karier di creator economy, tetapi tidak semuanya ingin berada di balik mikrofon." Menurut Schram, industri ini juga membuka berbagai profesi baru yang bahkan belum dikenal satu dekade lalu.

Fenomena ini juga mengubah cara perusahaan menilai kandidat pekerja. Pendiri organisasi REACH Dylan Huey menegaskan bahwa jejak digital kini menjadi nilai tambah di dunia kerja, bahkan bagi mereka yang tidak berkarier sebagai kreator konten. "Sekarang, membangun personal branding di dunia digital bisa membuka peluang untuk mendapatkan pekerjaan," ujarnya.

Huey memberikan contoh konkret soal platform profesional seperti LinkedIn. "Kebanyakan orang yang terkena PHK akan lebih dulu membuka LinkedIn. Kalau Anda tidak punya personal branding, tidak punya pengikut, dan tidak punya jaringan di LinkedIn, lalu siapa yang akan melihat profil Anda?"

Persaingan Ketat dan Ancaman AI: Saran untuk Calon Kreator

Di balik peluang besar, akademisi mengingatkan bahwa profesi ini tidak selalu menjanjikan kesuksesan instan. Profesor komunikasi Cornell University Brooke Erin Duffy menyebut profesi kreator memang semakin populer sejak pandemi covid-19 dan mencapai titik perkembangan penting pada 2024. Namun, hanya sebagian kecil kreator yang benar-benar memperoleh pendapatan besar.

"Kita memang sering mendengar kisah sukses seperti Alix Earle, tetapi kenyataannya banyak kreator yang hanya mampu bertahan hidup dari pekerjaannya," ujar Duffy. Senada dengan itu, Associate Professor University of Southern California Freddy Tran Nager menilai industri influencer kini semakin padat. "Peluang sukses menjadi influencer kurang lebih sama sulitnya dengan meniti karier sebagai aktor," katanya.

Nager menyarankan calon kreator konten tetap memiliki keahlian atau bidang studi lain sebagai bekal menghadapi persaingan industri yang semakin ketat dan perkembangan kecerdasan buatan yang terus melaju. Dengan kata lain, menjadi kreator konten kini membutuhkan lebih dari sekadar kamera dan koneksi internet—tetapi juga strategi, ketahanan mental, dan kemampuan adaptasi terhadap teknologi baru.

Reporter: Yanto Prasetya
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top