MAMUJU — Rilis resmi BPS yang disampaikan Senin (3/8/2026) menunjukkan inflasi tahunan Sulbar masih berada di bawah target nasional, namun laju kenaikan harga di kelompok perawatan pribadi dan kesehatan patut diwaspadai. Data ini dipaparkan langsung oleh Kepala BPS Sulbar Suri Handayani dalam agenda Berita Resmi Statistik di Mamuju.
Jika dirinci per kabupaten, laju inflasi di Mamuju mencapai 3,20 persen dengan IHK 112,24. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata provinsi, mengindikasikan tekanan harga di ibu kota provinsi lebih besar.
Kepala BPS Sulbar Suri Handayani menjelaskan, inflasi y-on-y terjadi karena kenaikan harga yang tersebar di seluruh kelompok pengeluaran. Kenaikan paling agresif terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mencapai 5,05 persen.
Disusul kelompok kesehatan yang naik 3,75 persen dan kelompok transportasi yang naik 3,66 persen. Sementara itu, kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga mengalami inflasi sebesar 2,80 persen.
“Pada bulan Juli 2026 ini Sulbar terjadi inflasi sebesar 2,00 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,80 persen,” singkatnya di hadapan para pejabat BPS Sulbar.
Berbeda dengan tren nasional yang kerap didorong gejolak pangan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau di Sulbar justru tercatat lebih rendah dari inflasi umum, yakni 1,64 persen. Hal ini mengindikasikan pasokan bahan pokok di pasar-pasar utama Sulbar relatif stabil.
Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga naik 1,54 persen; penyediaan makanan dan minuman/restoran 1,52 persen; serta pendidikan 1,85 persen. Adapun kenaikan paling tipis terjadi pada kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya yang hanya 0,16 persen.
Secara month to month (m-to-m), inflasi Sulbar pada Juli 2026 tercatat 0,23 persen. Sedangkan tingkat inflasi year to date (y-to-d) sejak awal tahun hingga Juli sudah mencapai 2,17 persen.
Dengan pola kenaikan yang merata di hampir semua sektor, daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah perlu menjadi perhatian pemda, terutama di Mamuju yang mencatat inflasi tertinggi. Tekanan di kelompok perawatan pribadi dan kesehatan kerap menjadi indikator awal meningkatnya biaya hidup non-makanan yang mulai membebani rumah tangga.