Hujan Buatan Disiapkan Pemprov DKI Antisipasi Kemarau Panjang, Tiga Pekan Tanpa Hujan

Penulis: Vino Bastian  •  Rabu, 29 Juli 2026 | 12:22:02 WIB
Pemprov DKI Jakarta menyiapkan rekayasa cuaca untuk mengantisipasi dampak kemarau panjang yang telah berlangsung tiga pekan tanpa hujan.

SULAWESI BARAT — Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan pihaknya siap mengaktifkan rekayasa cuaca kapan saja jika musim kemarau berkepanjangan terus berlanjut. Pernyataan itu disampaikan usai meninjau Stasiun MRT Bundaran HI Bank Jakarta, Rabu (29/7/2026).

Tiga Pekan Kemarau, Titik Kritis di Wilayah Penyangga

Menurut Pramono, kekeringan sudah terasa nyata di kawasan hulu Jakarta. “Yang paling utama sebenarnya di atas Jakarta yang terjadi kekeringan, tetapi tentunya ini juga berpengaruh bagi Jakarta,” ujarnya.

Pemprov melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah menyiapkan langkah antisipasi. “Tetapi yang jelas Pemerintah DKI Jakarta melalui BPBD juga sudah melakukan persiapan kalau memang diperlukan,” kata Pramono.

Perubahan Tujuan Rekayasa Cuaca: Dari Kurangi Banjir ke Picu Hujan

Pramono menjelaskan, modifikasi cuaca kali ini memiliki arah yang berlawanan dengan operasi serupa saat musim hujan. Jika sebelumnya dilakukan untuk mengurangi intensitas curah hujan dan mencegah banjir, kini upaya itu justru diarahkan untuk mendatangkan air.

“Ini dalam waktunya kalau memang diperlukan Pemerintah DKI Jakarta akan mengatur supaya hujan karena memang sudah hampir tiga minggu tidak ada hujan, di beberapa tempat terjadi kekeringan,” jelasnya.

Meski dampak paling parah dirasakan daerah penyangga, Gubernur menegaskan Jakarta tetap merasakan imbasnya. “Yang jelas kami siap untuk melakukan itu,” tandasnya.

Koordinasi dengan BMKG Jadi Kunci

Pramono menyebut koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjadi syarat utama pelaksanaan operasi ini. “Untuk koordinasi dengan BMKG tentunya kami siap kapan saja dilakukan,” kata Pramono.

Teknologi modifikasi cuaca biasanya dilakukan dengan menyemai garam ke awan menggunakan pesawat untuk mempercepat proses kondensasi dan menurunkan hujan. Operasi serupa kerap dilakukan pemerintah pusat saat musim kemarau ekstrem untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan atau mengisi waduk strategis.

Antisipasi El Nino dan Krisis Air Bersih

Langkah ini menjadi sinyal bahwa pemerintah daerah mulai waspada terhadap potensi krisis air bersih yang kerap mengintai Jakarta dan sekitarnya saat kemarau panjang. Data BMKG sebelumnya memperkirakan puncak musim kemarau di sebagian wilayah Indonesia masih akan berlangsung hingga Agustus-September 2026.

Pemprov DKI belum menyebutkan jadwal pasti pelaksanaan rekayasa cuaca tersebut. Semua masih bergantung pada hasil pemantauan BMKG dan tingkat urgensi di lapangan.

Reporter: Vino Bastian
Sumber: liputan6.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top