Google Berhasil Kurangi Scroll Jank Chrome Android hingga 48% pada 2026

Penulis: Usman Harun  •  Jumat, 24 Juli 2026 | 07:51:01 WIB
Google berhasil menurunkan frekuensi scroll jank pada Chrome Android hingga 48 persen pada awal 2026.

SULAWESI BARAT — Google secara resmi merinci bagaimana tim Chrome berhasil mengurangi frekuensi scroll jank—atau gejala halaman web yang tiba-tiba tersendat atau melompat—hingga hampir setengahnya dalam tiga tahun terakhir. Scroll jank sendiri terjadi saat perangkat gagal menampilkan bingkai (frame) yang berisi posisi gulir terbaru tepat waktu, mengganggu kenyamanan pengguna.

Mengapa Scroll Jank Begitu Mengganggu?

Pada layar 60 Hz, setiap bingkai memiliki waktu ketat 16,7 milidetik untuk diproses. Jika proses pengiriman input dari sentuhan jari hingga tampilan di layar molor dari batas waktu ini, layar terpaksa menampilkan posisi gulir lama selama satu siklus penuh. Mata manusia mempersepsikan kegagalan bingkai ini sebagai hentakan yang mengganggu.

Masalah ini lebih kompleks di Chrome dibandingkan aplikasi Android biasa. Chrome memiliki proses terpisah untuk browser, renderer, dan GPU yang meningkatkan stabilitas dan keamanan, namun secara tidak langsung memperparah scroll jank.

Jalur Data yang Rumit di Balik Layar

Proses menggulir di Chrome melibatkan perjalanan data yang panjang. Saat jari menyentuh layar, sinyal tidak hanya melewati satu utas (thread), tetapi harus melintasi beberapa proses. Input event tiba di proses browser untuk pengecekan, lalu diteruskan ke proses renderer untuk menghitung posisi gulir baru. Sementara itu, sinyal VSync berjalan di jalur berbeda menuju proses GPU, kemudian dikirim ke renderer untuk dicocokkan dengan input dan menggambar bingkai baru.

Kerumitan bertambah karena Chrome mengonsumsi input langsung dari perangkat keras tanpa buffer, sehingga event input tiba dalam interval yang tidak beraturan, sering kali beberapa kali dalam satu siklus refresh.

Tiga Jurus Andalan Google: Prediksi, Prioritas, dan Restrukturisasi

Untuk mengatasi bottleneck ini, Google meluncurkan beberapa proyek yang mencakup heuristik otomatis, optimasi tertarget, dan perubahan arsitektur mendalam. Berikut tiga pendekatan utamanya:

  • Input prediction: Jika sistem operasi terlambat mengirim event input, Chrome tidak menunggu. Browser membuat sintetis scroll update sendiri dan memprediksi posisi gulir berikutnya berdasarkan kurva gulir yang sudah diamati. Ini mencegah frame terlewat meskipun input asli tertunda.
  • Browser controls in Viz: Saat pengguna menggulir ke bawah, kontrol browser (seperti bilah URL) ikut bergerak. Dulu, pergerakan sinkron ini melibatkan thread utama browser di setiap frame, yang rawan gangguan visual. Sekarang, proses GPU bisa menerapkan offset gulir ke tangkapan layar kontrol browser tanpa perlu berkomunikasi dengan thread utama.
  • Prioritas thread input Android: Tim menemukan bahwa event input sering terlambat sampai ke Chrome karena thread OS yang bertanggung jawab mengirim input dipreempt oleh pekerjaan prioritas lebih rendah. Google pun bekerja sama dengan tim Android untuk memastikan semua thread pengirim input memiliki prioritas yang cukup tinggi.

Dampak Nyata bagi Pengguna Indonesia

Penurunan 48% frekuensi scroll jank ini berarti pengguna Chrome di Android—termasuk di Indonesia dengan penetrasi smartphone yang tinggi—akan merasakan pengalaman browsing yang lebih responsif. Halaman web yang panjang, penuh gambar, atau konten dinamis tidak lagi terasa berat saat digulir.

Perbaikan ini sudah mulai dirasakan secara bertahap sejak 2023 dan mencapai hasil optimal pada awal 2026. Google menegaskan bahwa upaya ini adalah bagian dari komitmen jangka panjang untuk menghilangkan hambatan utama dalam pengalaman web seluler.

Reporter: Usman Harun
Sumber: 9to5google.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top