SULAWESI BARAT — Pernyataan itu datang dari pengguna yang masih memegang teguh laptop lamanya, HP ProBook 640 G1. Di tengah dua laptop yang lebih baru—sebuah Dell 2-in-1 dan MacBook Air—justru mesin lawas itulah yang paling mudah dibongkar pasang. Ironisnya, kemudahan servis ini menjadi satu-satunya alasan laptop tua itu masih disimpan dan dipakai.
HP ProBook 640 G1 dirancang di era ketika upgrade RAM dan penggantian penyimpanan masih menjadi fitur standar. Pengguna bisa membuka panel bawah, mengganti modul memori, atau memasang SSD baru dalam hitungan menit tanpa alat khusus.
Bandingkan dengan Dell 2-in-1 dan MacBook Air yang lebih baru. Keduanya mengandalkan komponen yang disolder langsung ke motherboard. RAM tidak bisa ditambah, penyimpanan tidak bisa diganti, dan baterai pun menempel permanen. Jika satu komponen rusak, solusinya bukan perbaikan parsial, melainkan ganti papan utama atau beli unit baru.
Pergeseran ini bukan tanpa alasan. Pabrikan berlomba merampingkan bodi laptop untuk memenuhi selera pasar yang menginginkan perangkat tipis dan ringan. Namun, konsekuensinya jelas: komponen yang bisa dilepas memakan ruang kosong yang dibutuhkan untuk mekanisme pengunci dan konektor.
Untuk mencapai ketebalan di bawah 15 mm, pabrikan harus menyolder RAM ke motherboard dan merekatkan baterai dengan perekat kuat. Akibatnya, proses perbaikan yang dulu sederhana kini membutuhkan alat pemanas, obeng khusus, dan keahlian tingkat lanjut. Biaya servis pun melonjak drastis.
Di Indonesia, di mana harga laptop masih menjadi beban signifikan bagi banyak keluarga, daya tahan dan kemudahan perbaikan seharusnya menjadi prioritas. Laptop yang bisa diupgrade RAM dan penyimpanannya memperpanjang usia pakai, mengurangi limbah elektronik, dan menghemat pengeluaran jangka panjang.
Sayangnya, tren global menunjukkan sebaliknya. Pasar dibanjiri model dengan RAM dan penyimpanan yang sudah ditentukan sejak pabrik. Pengguna yang ingin performa lebih tinggi di masa depan tidak punya pilihan selain membeli laptop baru. Ini menjadi lingkaran konsumtif yang merugikan kantong dan lingkungan.
HP ProBook 640 G1 mungkin tidak tipis, tidak ringan, dan tidak punya layar resolusi tinggi. Tapi laptop ini mengajarkan satu hal: desain yang memikirkan masa depan perangkat. Baterai bisa diganti, RAM bisa ditambah, dan hard disk bisa diupgrade tanpa harus ke service center resmi.
Bagi pembaca yang sedang mencari laptop baru, ada baiknya mempertimbangkan aspek repairability. Cek apakah RAM dan penyimpanan masih bisa diakses pengguna. Tanya apakah baterai bisa diganti tanpa membongkar setengah bodi. Pilihan kecil ini bisa berarti perbedaan antara laptop yang bertahan lima tahun dan laptop yang harus dibuang karena satu komponen solder rusak.