SULAWESI BARAT — Sebanyak 64,3% produk sereal bayi instan yang dijual di Jakarta tercatat mencantumkan gula atau pemanis dalam komposisinya. Buat ibu yang sering mengandalkan bubur instan saat waktu mepet, ada beberapa hal wajib dicek di kemasan sebelum membeli.
Angka itu berasal dari penelitian yang diterbitkan jurnal Maternal & Child Nutrition pada 2023. Studi tersebut menganalisis 484 produk sereal kering atau instan di tujuh negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Peneliti mengumpulkan sampel pada 2021 dari sejumlah ibu kota, salah satunya Jakarta. Mereka memeriksa komposisi gizi dan informasi kemasan untuk menilai kesesuaiannya dengan kriteria gizi dalam penelitian.
Kenapa Kandungan Gula Tambahan Perlu Dicermati
Dari 484 produk yang diperiksa, 37,2% mengandung gula tambahan dan/atau pemanis. Angka ini penting karena gula tambahan berbeda dengan gula alami yang memang ada dalam bahan pangan.
Karena itu, jangan hanya melihat angka gula di tabel informasi nilai gizi. Periksa juga daftar bahan untuk mengetahui apakah produk memakai gula, sirup, madu, konsentrat sari buah, atau pemanis lain.
Natrium Tinggi pada Sebagian Produk
Selain gula, penelitian menemukan 28,9% produk memiliki kadar natrium yang tergolong tinggi berdasarkan batas penilaian studi. Natrium memang dibutuhkan tubuh, tapi jumlahnya perlu dijaga, apalagi untuk bayi yang baru mulai makan.
Kadar natrium sering luput dari perhatian karena orang tua lebih fokus pada kandungan gula. Padahal keduanya sama-sama perlu dicek di label kemasan.
Fortifikasi Vitamin dan Mineral Tidak Selalu Lengkap
Fortifikasi atau penambahan vitamin dan mineral jadi nilai jual banyak produk sereal bayi. Sereal yang diperkaya zat besi, zinc, kalsium, vitamin A, dan vitamin D memang bisa membantu memenuhi kebutuhan gizi anak.
Namun, tidak semua produk punya kandungan fortifikasi yang sama. Penelitian itu menemukan 30,8% sereal bayi instan yang diperiksa tidak diperkaya mikronutrien apa pun.
Sebagian besar produk yang difortifikasi memang mengandung sejumlah mikronutrien penting yang dinilai memadai. Artinya, klaim "mengandung vitamin dan mineral" perlu dibaca bersama komposisi keseluruhan produk.
Masalah Label Kemasan
Dari seluruh produk yang diperiksa, hanya 38% yang memenuhi semua persyaratan komposisi gizi yang dinilai. Lebih mengejutkan lagi, tidak satu pun dari 484 produk memenuhi seluruh persyaratan pelabelan dalam penelitian.
Klaim yang dinilai tidak sesuai jadi salah satu masalah yang sering ditemukan. Temuan ini menegaskan pentingnya informasi kemasan yang jelas agar orang tua bisa memahami kandungan dan penggunaan produk dengan tepat.
Cara Memilih Bubur Instan untuk MPASI
MPASI mulai diberikan saat bayi berusia sekitar 6 bulan. Di usia ini kebutuhan gizinya meningkat dan ASI saja tidak lagi cukup, sehingga bayi perlu diperkenalkan pada beragam bahan pangan dengan tekstur yang disesuaikan usia.
Bubur instan bisa jadi penyelamat saat waktu memasak terbatas. Tapi penggunaannya sebaiknya menjadi bagian dari pola makan yang beragam, termasuk protein hewani, sayuran, buah, dan sumber energi lain.
Sebelum membeli, periksa usia yang dianjurkan pada kemasan, daftar bahan, kandungan gula dan natrium, serta informasi vitamin dan mineral. Jangan lupa cek petunjuk penyajian dan cara penyimpanan agar makanan disiapkan dengan aman.
Kapan Perlu Konsultasi ke Dokter Anak
Kalau bayi menunjukkan reaksi seperti ruam, diare, atau sembelit setelah mengonsumsi produk tertentu, segera hentikan dan konsultasikan ke dokter anak. Ibu juga bisa meminta saran tenaga kesehatan soal kombinasi MPASI yang sesuai kebutuhan gizi si kecil.
Bubur instan memang praktis, tapi keputusan memilih tetap ada di tangan ibu. Dengan membaca label lebih teliti, kebutuhan gizi bayi bisa tetap terpenuhi tanpa mengorbankan kepraktisan.