SULAWESI BARAT — Syngenta Indonesia memperkenalkan teknologi drone perlindungan tanaman yang berpotensi memangkas biaya aplikasi hingga 50 persen dan menghemat air sampai 90 persen per hektare. Inovasi tersebut dipamerkan dalam Rice Innovation Day di fasilitas Crop Protection Development Syngenta, Cikampek, Karawang, bagian dari Festival Padi Petani MAJU 2026. Langkah ini menyasar petani tadah hujan yang selama ini menghadapi tekanan produktivitas lebih besar dibanding lahan irigasi.
Fasilitas riset Syngenta di Cikampek berdiri sejak 1980 dan kini terintegrasi dalam jaringan riset global perusahaan sebagai Center of Excellence for Crop Protection Development untuk kawasan Asia, Timur Tengah, dan Afrika (AMEA). Area kerjanya mencakup sekitar 14,5 hektare, ditambah lima hektare lahan basah dan kering untuk pengujian lapangan.
Rice Innovation Day memperlihatkan bagaimana riset, teknologi aplikasi, pengembangan varietas, dan pengujian lapangan disatukan menjadi solusi yang sesuai kebutuhan petani lokal. Pengunjung diajak melihat langsung proses penelitian, mulai dari isolasi fungi hingga pemeliharaan serangga pengganggu tanaman.
Drone Perlindungan Tanaman: Lebih Cepat, Lebih Hemat
Penggunaan drone untuk aplikasi perlindungan tanaman menjadi salah satu sorotan utama. Berdasarkan pengujian dan pengalaman lapangan Syngenta Indonesia, teknologi ini dalam kondisi tertentu berpotensi mempercepat aplikasi hingga 30 kali lipat dibanding cara konvensional.
Selain lebih cepat, drone juga disebut mampu menghemat biaya perlakuan hingga 50 persen dan mengurangi penggunaan air hingga 90 persen per hektare. Efisiensi ini relevan di tengah keterbatasan tenaga kerja di sektor pertanian.
Pengembangan drone tidak berhenti di perangkat keras. Syngenta turut menyusun standar operasional, menguji efikasi, dan mengembangkan produk yang sesuai untuk aplikasi drone, termasuk teknologi Ultra Low Volume (ULV).
Ketepatan Aplikasi Jadi Kunci
Melalui Application Technology Laboratory, pengunjung diperkenalkan pada pentingnya pemilihan nozzle, ukuran droplet, distribusi, dan pola semprotan. Faktor-faktor ini menentukan seberapa efektif teknologi yang digunakan di lapangan.
Kepala CPD Syngenta Indonesia, Nanin Noorhajati, menegaskan bahwa penelitian harus menjawab persoalan nyata petani.
"Kami ingin memastikan apa yang dikembangkan melalui penelitian dapat menjawab tantangan yang benar-benar dihadapi petani. Karena itu, proses inovasi tidak berhenti di laboratorium, tetapi terus diuji dalam kondisi nyata di lapangan," katanya.
Pendekatan Rice Growth Staging and Seedcare juga diperkenalkan. Metode ini menekankan pemahaman fase pertumbuhan tanaman dan perlindungan benih sejak awal agar padi lebih siap menghadapi tekanan hama dan penyakit.
NK Ningrat untuk Lahan Tadah Hujan
Syngenta memperkenalkan NK Ningrat, varietas padi dengan karakter Bening, Berat, dan Tangguh. Bening merujuk pada kualitas dan penampilan beras, Berat mencerminkan potensi hasil panen tinggi, sementara Tangguh menunjukkan daya tahan tanaman terhadap tantangan budi daya dan penyakit.
Varietas ini dirancang untuk petani di lahan tadah hujan yang punya tantangan produktivitas lebih besar. Kombinasi varietas unggul, perlindungan tanaman, dan teknologi aplikasi diharapkan mendorong peningkatan hasil panen dengan penggunaan sumber daya lebih efisien.
Dorongan Hilirisasi dan Ketahanan Pangan
Presiden Direktur Syngenta Indonesia, Eryanto, menilai swasembada pangan tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan produksi. Produktivitas, efisiensi, dan ketahanan petani menghadapi tantangan lapangan juga perlu diperkuat.
"Swasembada pangan tidak hanya membutuhkan peningkatan produksi, tetapi juga kemampuan untuk terus meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan ketahanan petani menghadapi berbagai tantangan. Karena itu, inovasi harus berangkat dari kebutuhan nyata di lapangan dan dapat diterapkan oleh petani," ujarnya.
Ketua Tim Promosi Barang dan Jasa Industri Internasional Kementerian Perindustrian, Seno Aribowo, menyoroti pentingnya hilirisasi berjalan seiring pengembangan teknologi pertanian.
"Pangan merupakan fondasi penting bagi stabilitas ekonomi dan kedaulatan bangsa. Di tengah ketidakpastian global dan tantangan iklim, penguatan produktivitas pertanian perlu berjalan bersama dengan pengembangan teknologi dan hilirisasi untuk menciptakan nilai tambah bagi rantai pasok nasional dan petani," katanya.
Keberhasilan adopsi teknologi ini tetap bergantung pada ketepatan penerapan di lapangan dan pendampingan berkelanjutan kepada petani. Tanpa itu, perangkat canggih sekalipun berisiko tidak memberi dampak nyata pada hasil panen.