MAMUJU — Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Barat, Safaruddin Sanusi, menyebut kebocoran hasil tangkapan ke luar daerah sebagai salah satu persoalan mendesak yang harus dibenahi. Dua provinsi yang mengapit Sulbar memiliki sentra pengelolaan ikan yang lebih siap, sehingga kapal nelayan Sulbar memilih langsung menjual hasil tangkapan ke sana. Akibatnya, nilai tambah dari komoditas laut Sulbar dinikmati daerah lain.
Fish Finder dan VMS Dipasang di Kapal Nelayan
DKP Sulbar menyiapkan dua perangkat teknologi untuk mengawasi sekaligus meningkatkan efektivitas penangkapan. Fish finder berfungsi mendeteksi posisi ikan, sementara Vessel Monitoring System (VMS) dipakai sebagai radar pengecekan kapal.
"Fish finder kita anggarkan 2027 sekitar 500 juta. Fish finder pendeteksi posisi ikan, VMS untuk radar pengecekan kapal," terang Safaruddin.
Pemasangan perangkat itu diharapkan memberi pemerintah gambaran utuh soal aktivitas armada. Namun Safaruddin menilai pengawasan kapal saja belum cukup.
Cold Storage di Kampung Nelayan Jadi Kunci
Pemerintah provinsi berencana membangun lebih banyak kampung nelayan yang dilengkapi fasilitas penampungan dan pendinginan. Cold storage itu nantinya dikelola dengan melibatkan koperasi nelayan.
Dengan penyimpanan yang memadai, hasil tangkapan bisa ditahan lebih dulu sebelum dijual. Nelayan punya ruang memilih pasar, tidak lagi terburu-buru melepas ikan ke pengepul luar daerah.
Salah satu kawasan yang jadi perhatian adalah Sentra Perikanan Palipi. Kawasan itu dinilai punya potensi besar sebagai pusat pengelolaan hasil perikanan Sulbar jika ditunjang cold storage yang cukup.
Udang Pasangkayu Rp 30 Miliar per Tahun
Safaruddin mencontohkan besarnya nilai ekonomi udang di Kabupaten Pasangkayu. Produksi udang di wilayah itu disebut menyumbang angka yang tidak kecil bagi daerah.
"6 ton saja itu udang di Pasangkayu itu menghasilkan sampai 30 miliar per tahun. Dan kedepan diperlukan mekanisme yang dibangun agar tidak nyeberang ke luar daerah," tegas Safaruddin, Minggu (4/10/2026).
Mekanisme yang dimaksud mencakup penguatan sentra pengolahan di dalam daerah. Pemerintah berharap langkah itu menarik investor dan pelaku usaha menanamkan modal di Sulbar.
Produk Olahan Masih Terbatas Ikan Asin
Komoditas perikanan yang beredar di pasaran Sulbar saat ini didominasi produk dengan pengolahan terbatas, seperti ikan asin dan ikan tawar. Pemerintah daerah ingin hasil laut tidak hanya dijual sebagai bahan mentah.
Pengolahan menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi disebut membuka lapangan kerja baru bagi warga lokal. Sektor kelautan dan perikanan juga berkontribusi terhadap angka inflasi di Sulbar, sehingga pembenahan dinilai penting.
Dengan memperkuat fasilitas penyimpanan, pengolahan, dan distribusi, rantai ekonomi perikanan diharapkan lebih banyak berputar di dalam daerah. Dampak yang dibidik: kesejahteraan nelayan naik, investasi masuk, dan kontribusi sektor kelautan terhadap pendapatan asli daerah Sulbar ikut menguat.