Pencarian

Mars Rayakan Tahun Baru ke-39, Berikut Cara Kerja Kalender Planet Merah

Jumat, 02 Oktober 2026 • 18:48:31 WIB
Mars Rayakan Tahun Baru ke-39, Berikut Cara Kerja Kalender Planet Merah
Mars merayakan Tahun Baru ke-39 pada 30 September berdasarkan sistem penanggalan yang digunakan sejak 1955.

SULAWESI BARAT — Mars baru saja merayakan Tahun Baru ke-39 pada 30 September, sebuah sistem penanggalan yang dipakai sejak 1955 karena satu tahun di Planet Merah setara 687 hari Bumi. Kalender Mars modern baru diusulkan pada 2000, ketika ekuinoks jatuh pada 11 April. Perbedaan siklus harian dan musiman membuat NASA menghitung waktu operasional wahana di Mars dengan satuan sol, bukan hari Bumi.

Kalender Mars modern sendiri baru diusulkan pada tahun 2000, ketika ekuinoks jatuh pada 11 April. Pemilihan tanggal tersebut sebenarnya baru dilakukan bertahun-tahun setelah sistem penanggalan ini pertama kali dipakai. Tahun itu kebetulan bertepatan dengan peristiwa cuaca berskala besar di Mars.

Mengapa Tidak Pakai Kalender Bumi?

Belum ada manusia yang tinggal di Mars, tapi sudah banyak benda buatan manusia beroperasi di permukaan maupun di sekitar planet tersebut. Jika kalender Bumi dipakai begitu saja, penanggalan akan cepat tidak sinkron dengan siklus alami Mars. Malam bisa jatuh saat siang hari, dan pergantian musim menjadi kacau.

Satu hari surya di Mars, yang disebut sol, berdurasi 24 jam, 39 menit, dan 35 detik. Durasi ini lebih lama dibandingkan hari di Bumi yang hampir tepat 24 jam. Jika waktu Bumi tetap dipakai untuk mengoperasikan rover dan lander di Mars, dalam waktu seminggu saja tengah malam akan jatuh pada pagi hari.

Karena itu, banyak misi ke Mars, termasuk wahana penjelajah Curiosity dan Perseverance milik NASA, menghitung waktu operasional mereka menggunakan satuan sol, bukan hari Bumi.

Perbedaan durasi tahun juga tidak kalah signifikan. Satu tahun di Mars berlangsung selama 668 sol, atau sekitar 687 hari Bumi. Jika ingin tahu usia dalam hitungan tahun Mars, cukup membagi usia dengan angka 1,88.

Musim di Mars Tidak Seperti di Bumi

Di Bumi, pergantian musim terjadi semata-mata karena kemiringan sumbu planet sebesar 23,5 derajat. Saat Bumi mengelilingi Matahari, satu belahan menerima lebih banyak cahaya, dan enam bulan kemudian kondisinya berbalik. Wilayah yang menerima lebih banyak cahaya sedang mengalami musim semi atau musim panas.

Mars memiliki kemiringan sumbu yang serupa, sekitar 25 derajat, tapi bukan itu satu-satunya faktor yang berpengaruh. Orbit Bumi cenderung melingkar, sementara orbit Mars jauh lebih elips. Akibatnya, durasi musim di Mars tidak sama. Musim semi di belahan utara berlangsung lebih lama dibandingkan musim gugur di belahan utara, yakni 192 sol berbanding 142 sol.

Fakta ini juga mengaitkan badai debu dengan pergantian musim. Belahan selatan Mars mengalami musim semi dan musim panas yang lebih singkat, namun karena planet berada lebih dekat dengan Matahari pada periode tersebut, atmosfer menjadi lebih turbulen. Turbulensi inilah yang memicu badai debu dahsyat hingga mampu menghalangi sinar Matahari selama berminggu-minggu.

Badai Debu dan Wahana yang Tumbang

Mars dikenal dengan badai debu besar yang cenderung terjadi pada paruh kedua tahun Mars. Badai-badai ini tidak seperti yang digambarkan dalam buku karya Andy Weir maupun film garapan Ridley Scott, The Martian. Atmosfer Mars tidak cukup padat untuk menghasilkan angin kencang seperti di Bumi.

Meski begitu, debunya dapat menyelimuti seluruh permukaan planet. Hal itulah yang menyebabkan matinya wahana penjelajah Opportunity milik NASA pada tahun 2018. Badai debu hebat tahun 1956, yang bermula pada musim panas di belahan bumi selatan, menjadi titik acuan yang berguna karena skalanya yang sangat dahsyat.

Tahun Baru Mars berikutnya akan jatuh pada tanggal 17 Agustus 2028. Bagi penggemar antariksa, penanggalan ini menjadi pengingat bahwa eksplorasi Planet Merah berjalan dengan ritme yang sama sekali berbeda dari Bumi.

Follow radarmamuju.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: inet.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks