MAMUJU — Sandeq Silumba 2026 mempertemukan 80 perahu sandeq dalam dua grup, Grup A dan Grup B, yang masing-masing berisi 40 peserta. Seluruh perahu menempuh etape pertama dari Pantai Banua Sendana menuju Pantai Pamboang. Penyelenggaraan tahun ini bersamaan dengan peringatan Hari Jadi Provinsi Sulbar ke-22.
Gubernur Suhardi Duka menyaksikan langsung jalannya etape pembuka. Ia menilai para passandeq menunjukkan kecekatan mengendalikan perahu, terutama saat arah angin berlawanan dengan jalur pelayaran.
Angin Lawan Arah Jadi Ujian Utama Passandeq
Kondisi angin di jalur etape pertama datang dari arah depan. Situasi itu membuat perahu tidak bisa sekadar mengikuti dorongan angin seperti lazimnya pelayaran sandeq.
"Anginnya ternyata mau ke depan. Tapi kecekatan daripada para passandeq itu mampu mengambil angin walaupun menuju ke depan atau melawan arah angin," ujar Suhardi Duka.
Menurut Suhardi, angin dari belakang membuat sandeq relatif lebih mudah melaju. Tantangan baru muncul ketika angin berada di depan sementara perahu tetap harus bergerak menuju arah tersebut.
"Kalau anginnya di depan kita menuju ke belakang, tidak ada masalah. Tapi ini memang anginnya di depan, sandeq menuju ke depan. Jadi itulah melawan arah," katanya.
Teknik Warisan Pelaut Mandar yang Tak Dikuasai Orang Biasa
Suhardi menilai kemampuan melayarkan sandeq melawan angin menuntut teknik dan keterampilan khusus. Keterampilan itu diwariskan dalam tradisi pelayaran masyarakat Mandar dari generasi ke generasi.
"Jadi teknik. Dan memang itulah menandakan bahwa kita orang Mandar memang menguasai itu. Karena kalau orang biasa tidak mampu melayarkan sandeq-nya melawan angin," ungkap Suhardi Duka.
Ia lalu mengaitkan semangat para passandeq dengan nilai perjuangan dalam kehidupan bermasyarakat dan pemerintahan. Menurutnya, menghadapi tantangan butuh ketekunan dan keberanian untuk terus bergerak maju.
"Tidak mudah menyerah untuk memperjuangkan hak dan nasib rakyat," tegasnya.
Jaga Tradisi Bahari Mandar di Usia Sulbar ke-22
Sandeq Silumba 2026 digelar sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Provinsi Sulbar ke-22. Ajang ini juga menjadi sarana memperkenalkan sekaligus menjaga tradisi bahari masyarakat Mandar.
Sebanyak 80 perahu yang turun pada etape pertama masih akan melanjutkan rangkaian lomba pada jalur pelayaran yang telah ditetapkan panitia. Peserta dituntut menjaga kecepatan sekaligus ketangguhan menghadapi kondisi angin di perairan Sulawesi Barat.