MAMUJU — Makdoem Ibrahim menyoroti peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober 2026 sebagai momen bertanya dengan jujur apakah pemuda Sulawesi Barat masih setia pada jalan persatuan atau justru tercerai-berai oleh zaman. Ia menilai Sumpah Pemuda tidak lahir dari gedung megah, melainkan dari hati yang gelisah melihat bangsanya terjajah. Kegelisahan serupa, menurutnya, seharusnya tumbuh di hati pemuda Mandar, Mamasa, Mamuju, Majene, Pasangkayu, dan Polewali Mandar.
Dalam refleksinya, Makdoem mengingatkan bahwa tantangan hari ini bukan lagi bambu runcing penjajah. Yang dihadapi generasi muda sekarang adalah krisis adab, krisis keteladanan, dan lunturnya jati diri sebagai Manusia Malaqbi.
Makdoem menegaskan bahwa dalam Sumpah Pemuda 1928 terdapat nama Jong Celebes, yang menurutnya adalah representasi pemuda Sulawesi. Para pemuda dari pulau itu berlayar jauh ke Batavia bukan untuk mencari nama, tetapi untuk menitipkan masa depan.
"Mereka adalah kakek buyut kita yang mengajarkan bahwa menjadi orang Sulawesi tidak pernah bertentangan dengan menjadi orang Indonesia," tulis Makdoem.
Memperingati Sumpah Pemuda di Bumi Malaqbi, lanjutnya, berarti menyambung kembali benang sejarah yang pernah dipintal Jong Celebes. Persatuan yang dibangun hampir seabad lalu itu harus tetap dijaga dengan cara baru.
Makdoem memaknai ulang tiga ikrar Sumpah Pemuda lewat falsafah hidup orang tua di Sulawesi Barat. Pemaknaan ini menjadi inti refleksinya terhadap kondisi pemuda saat ini.
Makdoem mengutip pepatah Pituo, "Malaqbiq na Pau, Malunduq na Sember", yang berarti perkataan baik dan sopan menunjukkan kemuliaan diri. Ia mengingatkan agar pemuda tidak lebih hafal istilah asing di TikTok daripada peribahasa neneknya sendiri.
Falsafah Sayyang Pattuduq, kuda penari dari Mandar, dipakai Makdoem untuk menggambarkan pemuda ideal. Kuda itu gagah dan bertenaga, mampu melompat tinggi, tetapi tetap patuh pada penunggangnya dan bergerak mengikuti irama rebana.
Pemuda 2026, katanya, harus energik, inovatif, dan menguasai teknologi AI serta ekonomi digital. Namun energi itu harus tetap punya penunggang, yaitu iman, adab, dan kearifan lokal. Tanpa penunggang tersebut, energi pemuda hanya akan menjadi liar dan merusak.
Dari Mamasa, Tarian Pa'gellu memberi pelajaran lain. Tarian itu tidak bisa ditarikan sendiri karena harus kompak, saling menyambut, dan saling mengisi. Di tengah budaya individualistis dan keinginan viral sendirian, Pa'gellu mengingatkan bahwa kejayaan Sulawesi Barat tidak bisa dibangun satu bupati, satu dinas, atau satu pemuda hebat saja.
Makdoem menutup refleksinya dengan seruan dari Tanah Malaqbi untuk Indonesia. Menjelang satu abad Sumpah Pemuda, ia menilai pekerjaan rumah terbesar adalah menjaga lisan dan jari-jari agar tetap Malaqbi, tetap memuliakan manusia lain.
Perselisihan, menurutnya, semestinya diselesaikan di atas Litaq dengan musyawarah, bukan dengan cacian di kolom komentar. Nilai itu yang diwariskan leluhur dari Pitu Ulunna Salu dan Pitu Ba'bana Binanga.
"Harus Ma'gellu bersama," tulis Makdoem, menegaskan bahwa persatuan Sulawesi Barat hanya bisa diwujudkan lewat gotong royong seluruh elemen, bukan kerja seorang diri.