IHSG Anjlok ke 5.185, Danantara Siap Borong Saham BUMN Bertahap

Penulis: Wahyu Hidayat  •  Selasa, 20 Oktober 2026 | 08:35:01 WIB
IHSG anjlok 11,57 persen ke level 5.185,10 pada Jumat (16/10/2026).

SULAWESI BARAT — Danantara Indonesia menyatakan siap menambah porsi investasi saham BUMN secara bertahap setelah IHSG anjlok 11,57 persen ke level 5.185,10 pada Jumat (16/10/2026). CEO Danantara Rosan Roeslani menilai koreksi tajam itu membuat valuasi saham pelat merah, terutama perbankan, berada di bawah rata-rata industri. Rencana ini menyasar saham dengan imbal hasil dividen tinggi seperti Bank Mandiri dan BRI.

Rosan Roeslani menyampaikan rencana penambahan investasi itu saat ditemui awak media di Istana Kepresidenan, Senin (19/10/2026). Menurut dia, keputusan masuk ke pasar modal tidak diambil berdasarkan panik sesaat, melainkan lewat kajian fundamental, teknikal, dan persepsi pasar terhadap saham yang menjadi target.

“Kita melihat ini sebagai kesempatan untuk kita masuk secara bertahap,” ujar Rosan.

Valuasi Perbankan di Bawah Satu Kali PBV

Rosan menilai sejumlah saham BUMN, termasuk sektor perbankan, memiliki valuasi yang relatif murah. Rasio price to book value (PBV) perbankan rata-rata berada di bawah satu kali.

Menurut dia, fundamental perbankan nasional tetap kuat. Sejumlah bank juga menawarkan imbal hasil dividen yang menarik, dengan Bank Mandiri sekitar 16 persen dan BRI sekitar 13 persen.

“Ya, kita masuk ke saham-saham yang tentunya sudah dianalisa baik secara fundamental. Kita lebih analisa secara fundamental, secara teknikal, secara persepsi pasar dan lain-lain,” kata Rosan.

IHSG Terjun Bebas, 775 Saham Tertekan

Koreksi pasar terjadi pada Jumat (16/10/2026). Mengutip data RTI, IHSG ditutup anjlok 11,57 persen ke 5.185,10, sementara indeks LQ45 melemah 13,82 persen ke 508,55.

Sepanjang hari itu, IHSG bergerak di rentang tertinggi 5.404,50 dan terendah 5.185,10. Sebanyak 775 saham tertekan dan membebani indeks, sedangkan 10 saham menguat dan 10 lainnya stagnan.

Di Gedung BEI, Rosan sudah lebih dulu menyebut momen koreksi sebagai peluang masuk. “Ini momen karena kalau kita lihat valuasi dari perusahaan-perusahaan yang melantai di bursa termasuk yang dimiliki Badan Usaha Milik Negara itu valuasinya sangat boleh dikatakan rendah pada saat ini,” ujar dia.

Strategi Investasi Jangka Panjang, Bukan Trading

Danantara menegaskan posisinya sebagai investor jangka panjang, bukan investor yang masuk-keluar cepat. “Kami sebagai Danantara selalu melihat investasi itu sebagai long term investment bukan sebagai investor in and out yang kita bisa masuk. Kita meyakini, melihat dan menganalisa fundamental perusahaan kita sangat baik,” kata Rosan.

Selain perbankan, dia menyoroti sektor infrastruktur dan telekomunikasi yang juga dinilai murah dibandingkan rata-rata valuasi peers di industrinya. “Valuasinya mungkin di bawah one time price book value ini di bawah average dari valuasi di peers di industrinya belum lagi di sektor infrastruktur di sektor telekomunikasi dan yang lain,” ujar Rosan.

Rosan menilai pergerakan bursa saat ini lebih didorong sentimen teknikal dan rumor pasar ketimbang faktor fundamental. “Tapi kalau kami melihatnya ini bukan karena soal fundamental tapi ini lebih ke technical dan rumors di market, tetapi ini juga lebih ke soal non-fundamental tapi kembali lagi kita pegangannya adalah fundamental. Jadi ini momen yang sangat baik untuk kita investasi ke saham-saham yang ada di Indonesia,” kata dia.

Rencana Danantara menambah porsi saham BUMN menjadi sinyal bahwa tekanan jual di pasar modal tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi dasar emiten pelat merah. Bagi investor ritel, pernyataan Rosan menegaskan bahwa valuasi murah dan dividen tinggi masih menjadi acuan utama di tengah gejolak indeks.

Reporter: Wahyu Hidayat
Sumber: liputan6.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top