Laba JARR Rp158,93 Miliar, Kinerja Emiten Jhonlin Jadi Sorotan

Penulis: Yanto Prasetya  •  Jumat, 16 Oktober 2026 | 08:36:02 WIB
PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) membukukan laba bersih Rp158,93 miliar hingga akhir Juni 2026.

SULAWESI BARAT — PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) membukukan laba bersih Rp158,93 miliar dan pendapatan Rp1,76 triliun hingga akhir Juni 2026, sementara emiten terafiliasi PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) mencatat laba Rp44,51 miliar. Kinerja kedua perusahaan menjadi perhatian karena saham keduanya disebut sebagai agunan pembiayaan Bank Mandiri (BMRI), dengan nilai pasar gabungan diperkirakan mencapai Rp73 triliun. Analis menilai laporan keuangan tetap menjadi penentu utama dalam menilai kualitas agunan tersebut.

Analis InFast Bestari, Gede Sandra, menilai penggunaan saham sebagai jaminan bukan hal baru di dunia perbankan. Praktik itu lazim dilakukan, terutama oleh bank besar seperti Bank Mandiri yang berstatus bank pemerintah dengan aset jumbo dan sudah terbuka sebagai perusahaan publik.

"Penggunaan saham sebagai jaminan, bukanlah praktik baru di dunia perbankan. Sangat lazim terjadi. Ingat, Bank Mandiri adalah bank pemerintah yang beraset besar. Perusahannya sudah terbuka, pastilah mengedepankan prinsip kehati-hatian," papar Gede di Jakarta, Kamis, 15 Oktober 2026.

Pernyataan itu merespons ramainya pembahasan soal saham JARR dan PGUN yang disebut dijaminkan ke BMRI. Keduanya merupakan emiten yang terafiliasi dengan pengusaha Haji Isam.

Kinerja Keuangan JARR dan PGUN

JARR mencatatkan total aset Rp4,09 triliun dan ekuitas Rp2,02 triliun hingga akhir Juni 2026. Meski penjualan mengalami penyesuaian dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, perseroan masih membukukan laba operasional Rp234,4 miliar dan EBITDA Rp325,3 miliar.

Kas dan setara kas JARR mencapai Rp456,9 miliar, dengan rasio utang terhadap ekuitas sekitar 0,86 kali. Angka itu menunjukkan struktur permodalan yang masih terkendali.

Sementara PGUN membukukan pendapatan Rp304,97 miliar dan laba bersih Rp44,51 miliar pada semester I 2026. Perseroan memiliki total aset Rp2,42 triliun, liabilitas Rp502,55 miliar, dan ekuitas Rp1,92 triliun.

Secara gabungan, ekuitas kedua emiten mencapai sekitar Rp3,94 triliun. Gede menyebut laporan keuangan keduanya tetap perlu dinilai menyeluruh, dengan mempertimbangkan arus kas, kewajiban, prospek usaha, dan kemampuan menjaga kinerja berkelanjutan.

Mengapa Saham Bisa Jadi Agunan

Dalam pengelolaan risiko kredit, bank dapat mempertimbangkan rasio pinjaman terhadap nilai agunan (loan to value), pergerakan harga saham, serta ketentuan penambahan jaminan bila nilainya turun signifikan. Nilai saham yang dijaminkan tidak otomatis mencerminkan besaran kredit yang diberikan.

"Sehingga, besarnya nilai saham yang dijaminkan itu, justru dapat menjadi salah satu lapisan perlindungan bagi kreditur," tandas Gede.

Penilaian juga memperhitungkan nilai ekonomis agunan dan ketentuan pembiayaan yang berlaku. Kondisi keuangan emiten, likuiditas saham, potensi perubahan harga, serta kemampuan debitur memenuhi kewajiban menjadi bagian dari penilaian risiko.

Akuisisi BYAN dan Potensi Dividen

Rencana akuisisi 30,25% saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) oleh Haji Isam turut menjadi bagian dari perkembangan bisnis yang dicermati. Transaksi tersebut ditaksir bernilai Rp26,1 triliun.

Akuisisi itu berpotensi membuka penerimaan dividen bagi pemegang saham, bergantung pada kinerja perusahaan dan keputusan pembagian dividen. Potensi tersebut tetap terikat risiko usaha dan dinamika pasar.

Gede menilai keputusan pembiayaan perlu dilihat dalam konteks pertimbangan bisnis serta kualitas aset yang mendasarinya. Menurut dia, laporan keuangan JARR dan PGUN yang dijaminkan ke BMRI masih mencatatkan laba, dengan aset triliunan rupiah dan ekuitas yang kuat.

"Berdasarkan laporan keuangan JARR maupun PGUN yang dijaminkan ke BMRI, masih mencatatkan laba, nilai asetnya cukup besar. Triliunan rupiah, serta memiliki ekuitas yang kuat. Dan, menurut literasi yang saya baca dan saya yakini, Haji Isam adalah pengusaha yang jam terbangnya sudah tinggi. Benar-benar profesional dia," imbuhnya.

"Dalam konteks itulah keputusan pembiayaan Bank Mandiri dapat dipandang sebagai keputusan bisnis yang didasarkan pada aset riil dan fundamental korporasi yang masih solid," pungkas Gede.

Bagi investor, laporan keuangan JARR dan PGUN menjadi salah satu aspek yang dapat diperhatikan dalam menilai kualitas saham sebagai agunan. Kedua emiten masih mencatatkan laba, tetapi keberlanjutan kinerja tetap bergantung pada arus kas, pengelolaan kewajiban, dan prospek usaha di sektor yang mereka geluti.

Reporter: Yanto Prasetya
Sumber: medcom.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top