MAMUJU — Deretan kapal nelayan berukuran menengah hingga besar terlihat ditambatkan rapat di sejumlah muara dan tempat pelelangan ikan (TPI) di Mamuju, Sulawesi Barat. Sebagian besar pemilik kapal memilih tidak melaut karena pasokan solar subsidi di SPBUN tidak mencukupi kebutuhan operasional.
Kondisi serupa berlangsung hampir sepekan terakhir. Solar subsidi yang seharusnya menjadi bahan bakar utama kapal nelayan justru sulit diperoleh, bahkan ketika nelayan telah mengantongi surat rekomendasi pembelian dari dinas terkait.
Seorang nahkoda kapal di dermaga Mamuju mengungkapkan bahwa surat rekomendasi pembelian solar yang dimiliki nelayan belum tentu membuat mereka dilayani di SPBU. Ia menduga kapasitas pasokan yang terbatas membuat pengisian solar tidak dapat dilayani secara maksimal.
"Sudah seminggu kami tidak bisa melaut karena Solar kosong. Kalau melaut pakai Solar non-subsidi, biayanya tidak menutup hasil tangkapan. Sekarang ratusan ABK cuma bisa pasrah dan menunggu kapal berlayar lagi," ujarnya.
Ia menyebut pihak SPBU lebih banyak melayani pelangsir. Nelayan yang telah memiliki rekomendasi resmi justru tidak mendapat jatah solar sesuai kebutuhan mereka.
Jumlah nelayan yang terdampak diperkirakan mencapai 600 orang. Angka itu dihitung dari sekitar 50 kapal yang tidak beroperasi, dengan jumlah awak antara 11 sampai 12 orang per kapal.
Para ABK bekerja dengan sistem bagi hasil dari setiap trip pelayaran. Ketika kapal tidak berlayar, penghasilan harian mereka otomatis hilang.
Tanpa BBM yang cukup, kapal tidak dapat menembus wilayah tangkapan (fishing ground). Aktivitas ekonomi di kawasan pesisir Mamuju pun ikut tersendat.
Kelangkaan solar subsidi tidak hanya berdampak pada pemilik kapal dan ABK. Pasokan ikan dari Mamuju berpotensi berkurang selama kapal-kapal tetap bersandar di dermaga.
Nelayan berharap ada penambahan alokasi solar subsidi di SPBUN agar kapal dapat kembali melaut. Mereka juga meminta dinas terkait memastikan surat rekomendasi yang dikeluarkan benar-benar diikuti dengan pelayanan di SPBU.