SULAWESI BARAT — Gerhana Matahari Total pada 2 Agustus 2027 diprediksi menjadi yang terlama sepanjang abad ke-21 dengan durasi totalitas maksimum 6 menit 23 detik. Jalur totalitasnya melintasi Mekah, Jeddah, Luxor, hingga Cadiz dan Malaga di Spanyol selatan. Durasi ini jauh melampaui gerhana Amerika Utara 2024 yang hanya 4 menit 28 detik.
Perhitungan astronomis menunjukkan puncak totalitas gerhana 2027 akan berpusat sekitar 60 kilometer di tenggara Kota Luxor, Mesir. Di titik itu, Bulan menutup piringan Matahari selama 6 menit 23 detik, angka yang mendekati batas teoretis gerhana matahari total sekitar tujuh setengah menit.
Sebagian besar kawasan Semenanjung Arab akan mengalami fase gerhana, dengan totalitas paling jelas terlihat di wilayah barat Arab Saudi. Mekah menjadi salah satu lokasi paling strategis karena posisinya tepat di bawah jalur totalitas.
GMT 2027 terjadi pada siang menjelang sore waktu setempat di Mekah. Saat puncak gerhana, siang berubah gelap total, suhu udara berpotensi turun hingga 10 derajat Celsius, dan gugusan bintang serta sejumlah planet yang biasanya hanya tampak malam hari akan muncul di langit.
Selain Arab Saudi, jalur totalitas melewati Spanyol Selatan, Maroko, dan Mesir. Kota-kota besar yang masuk jalur inti antara lain Cadiz dan Malaga di Spanyol, Tangier di Maroko, serta Jeddah di Arab Saudi. Luxor diprediksi menjadi destinasi paling populer bagi pemburu gerhana.
Durasi 6 menit 23 detik menempatkan GMT 2027 jauh di atas gerhana matahari total 2026 yang hanya berlangsung 2 menit 18 detik. Gerhana Amerika Utara pada April 2024 juga lebih singkat, yakni 4 menit 28 detik.
Menurut teori, gerhana matahari total terpanjang yang mungkin terjadi adalah sekitar tujuh setengah menit. Syaratnya tiga hal harus bertemu: Matahari berada di titik apogee, Bulan di titik perigee, dan jalur totalitas melintasi ekuator. Kombinasi ini jarang terjadi bersamaan, dan GMT 2027 mendekati kondisi ideal tersebut.
Selama fase totalitas, korona atau lapisan terluar atmosfer Matahari yang biasanya tak kasatmata akan terlihat dengan mata telanjang. Korona tampak sebagai filamen cahaya tipis yang memanjang ke segala arah dari balik piringan Bulan.
Kelly Korreck, ilmuwan program gerhana di Markas Besar NASA, menyebut konfigurasi Bumi-Bulan-Matahari ini sebagai keistimewaan tersendiri. "Sejauh ini, Bumi adalah satu-satunya planet yang kita ketahui mengalami jenis gerhana matahari seperti ini," kata Korreck, dikutip dari Euronews.
"Ada bulan-bulan lain yang melintas di depan Matahari, namun memiliki Bulan dengan ukuran dan jarak yang sempurna untuk menyaksikan ini sungguh istimewa," tambahnya.
Kacamata gerhana khusus wajib digunakan di luar fase totalitas. Alat ini harus memenuhi standar internasional ISO 12312-2, yang ribuan kali lebih gelap dari kacamata hitam biasa. Melihat Matahari secara langsung tanpa pelindung saat fase parsial bisa merusak retina secara permanen.
Bagi wisatawan Indonesia yang berencana menyaksikan langsung, Arab Saudi dan Mesir menjadi dua tujuan terdekat dari segi jarak tempuh. Keduanya memiliki musim panas yang ekstrem pada Agustus, sehingga perencanaan akomodasi dan perlengkapan pengamatan perlu disiapkan jauh hari.