MAJENE — Festival Tunas Bahasa Ibu Tingkat Kabupaten Majene tahun ini diikuti 13 peserta tingkat Sekolah Dasar dan 8 peserta tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Total 21 pelajar itu tampil sebagai bagian dari upaya menjaga keberlangsungan bahasa daerah di tengah perkembangan zaman.
Kegiatan dibuka langsung oleh Wakil Bupati Majene A. Ritamariani Basharoe. Dalam sambutannya, ia berharap festival ini terus dikembangkan agar pelaksanaan tahun-tahun mendatang semakin semarak, kreatif, dan berkualitas.
Ritamariani menilai Festival Tunas Bahasa Ibu bisa dikolaborasikan dengan berbagai agenda kebudayaan lain di Majene. Tujuannya agar pelestarian bahasa daerah tidak berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan menjadi bagian dari gerakan kebudayaan yang berkelanjutan.
Menurutnya, pelestarian bahasa Mandar bukan hanya tugas pemerintah. Ia menyebut tanggung jawab itu melekat pada seluruh elemen masyarakat.
"Melestarikan bahasa Mandar bukan hanya tugas pemerintah. Ini tanggung jawab kita bersama," tegasnya.
Wakil Bupati mengajak warga memulai upaya pelestarian bahasa Mandar dari lingkungan terdekat, terutama keluarga dan sekolah. Ia menekankan bahwa generasi muda tumbuh di tanah Mandar dan seharusnya tidak kehilangan kemampuan mengenal serta menggunakan bahasa daerahnya sendiri.
"Mari kita mulai dari diri sendiri, dari keluarga, dari orang tua, dan dari sekolah. Sebab kita hidup dan tumbuh di tanah Mandar. Jangan sampai generasi muda kita kehilangan kemampuan untuk mengenal dan menggunakan bahasa daerahnya sendiri," ujarnya.
Ia menegaskan bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa Mandar dinilainya sebagai bagian penting dari identitas dan warisan budaya masyarakat Mandar.
"Bahasa adalah identitas. Bahasa adalah warisan. Dan ketika kita menjaga bahasa Mandar, kita sedang menjaga jati diri dan warisan budaya untuk generasi yang akan datang."
Melalui Festival Tunas Bahasa Ibu, Pemerintah Kabupaten Majene mendorong keterlibatan generasi muda agar semakin mengenal, mencintai, dan menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari.
Pelestarian bahasa Mandar diharapkan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan dunia pendidikan. Pemerintah Kabupaten Majene ingin upaya ini tumbuh sebagai gerakan bersama dari keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat.