SULAWESI BARAT — Persoalan mendasar perkebunan sawit rakyat saat ini bukan hanya soal mengganti bibit tua atau menambah dosis pupuk. Tantangan yang dihadapi pekebun di Seluma jauh lebih kompleks, mulai dari tanaman yang memasuki usia tua dan butuh peremajaan, hingga tuntutan adaptasi terhadap perubahan iklim dan organisme pengganggu tanaman.
Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi, menegaskan bahwa keberhasilan kebun sawit ditentukan oleh kemauan petani untuk terus belajar. "Kebun sawit yang hebat itu tidak lahir dari kebun yang luas saja, tetapi dari petani yang harus mau terus belajar untuk meningkatkan potensi," ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (22/8/2026).
Pelatihan yang berlangsung selama enam hari ini dirancang untuk menjembatani pengetahuan teknis dengan praktik di lapangan. Materi yang diberikan mencakup pemilihan bibit, pemeliharaan tanaman, pemupukan berimbang, pengendalian gulma, hingga konservasi tanah dan air.
Para peserta juga dibekali penerapan praktik perkebunan yang baik atau good agricultural practices (GAP). Pendekatan ini menempatkan produktivitas sebagai hasil dari serangkaian keputusan teknis, bukan sekadar jumlah input yang digunakan.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Seluma, Arian Sosial, mengatakan pelatihan ini menjadi momen bagi pekebun untuk mengevaluasi ulang cara mereka mengelola kebun. Menurut dia, keberhasilan budidaya ditentukan oleh keputusan-keputusan kecil yang dimulai dari persiapan lahan, pengaturan jarak tanam, hingga pengendalian hama dan penyakit.
Kesalahan dalam satu tahapan, misalnya pemupukan yang tidak tepat waktu atau jarak tanam yang terlalu rapat, bisa menekan produksi buah sawit secara signifikan. Karena itu, pemahaman teknis yang mumpuni menjadi kunci agar berbagai input produksi yang sudah dikeluarkan petani tidak sia-sia.
Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan para pekebun Seluma tidak hanya mengandalkan faktor alam, tetapi mampu mengelola kebunnya secara lebih presisi dan berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan dorongan pemerintah untuk meningkatkan produktivitas sawit rakyat nasional yang selama ini masih tertinggal dibandingkan perkebunan besar.
Langkah ini menjadi bagian penting dari upaya peremajaan sawit rakyat (PSR) yang digencarkan pemerintah. Pasalnya, tanpa diiringi peningkatan kapasitas sumber daya manusia, program peremajaan dengan bibit unggul sekalipun tidak akan memberikan hasil optimal.