Angkatan Darat AS Hentikan Batalion Drone dan Robot, Kembali ke Tugas Infanteri Dasar

Penulis: Xander Situmorang  •  Jumat, 21 Agustus 2026 | 02:23:31 WIB
Angkatan Darat AS membubarkan batalion khusus drone dan robot, kembali fokus pada tugas infanteri dasar.

SULAWESI BARAT — Keputusan ini menjadi sorotan karena batalion tersebut baru dibentuk pada era kepemimpinan Jenderal Randy George. Saat itu, unit ini dianggap sebagai ujung tombak modernisasi militer AS, khususnya untuk mengadopsi taktik perang drone yang terbukti efektif di medan perang Ukraina sejak 2022.

Juru bicara Angkatan Darat AS menyatakan komitmennya untuk terus mempercepat dominasi drone militer demi memenuhi tuntutan operasi tempur skala besar. Namun, pernyataan tersebut tidak menjelaskan bagaimana kemampuan drone akan diadaptasi setelah batalion ini dibubarkan.

Kritik dari Pakar Pertahanan

Keputusan ini menuai kritik dari sejumlah pakar. Michael O'Hanlon, pakar pertahanan dari Brookings Institution, menilai langkah ini sebagai kemunduran. Menurutnya, Ukraina telah merevolusi cara bertempur jarak dekat, dan Jenderal George telah berada di jalur yang tepat untuk mengantisipasi perubahan tersebut.

"Ukraina pada dasarnya telah merevolusi pertempuran jarak dekat. Jenderal George mulai memahami hal ini, dan kemunduran apa pun dari apa yang dia lakukan akan sangat disesalkan dan berbahaya," ujar O'Hanlon kepada Wall Street Journal.

Uji Coba Terakhir di Latihan Saber Junction

Sebelum resmi dibubarkan, batalion yang beranggotakan sekitar 600 prajurit ini masih akan mengikuti latihan tahunan Saber Junction di Jerman pada Agustus hingga September. Hasil temuan dari latihan tersebut akan dilaporkan ke Angkatan Darat AS sebagai panduan untuk eksperimen teknologi di masa depan.

Memo internal yang ditulis Jenderal LaNeve menyatakan bahwa pasukan AS harus siap menghadapi tantangan paling kompleks yang diberikan lawan. LaNeve menekankan pentingnya menguasai lingkungan operasional yang berbeda secara fundamental dari medan perang masa lalu.

Pergeseran Strategi Perang Drone

Keputusan ini bisa dimaknai sebagai upaya militer AS untuk menyatukan doktrin tempurnya. Dalam beberapa konflik terakhir, AS cenderung memilih aksi cepat dan tegas, seperti operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro, serta serangan jarak jauh seperti yang terjadi saat perang dengan Iran. Strategi ini menghindari pertempuran darat berkepanjangan ala Afghanistan dan Irak yang memakan banyak korban serta menggerus dukungan publik.

Meski membubarkan batalion khusus, bukan berarti AS mengabaikan ancaman drone. Korps Marinir AS justru sedang bereksperimen dengan taktik untuk melawan drone ukuran konsumen menggunakan senapan otomatis, shotgun, dan peluncur granat yang sudah dibawa prajurit.

Untuk sistem yang lebih canggih, Angkatan Darat AS bekerja sama dengan perusahaan swasta menguji penanggulangan elektronik. Beberapa teknologi yang diuji antara lain pengacak frekuensi radio untuk memutus komunikasi drone dengan operatornya, GPS spoofing untuk membingungkan navigasi drone, serta sistem gelombang mikro berdaya tinggi (HPM) yang mampu melumpuhkan drone sepenuhnya.

Apa yang Berubah dari Kepemimpinan Baru?

Pembubaran ini menandai perubahan arah dari kebijakan Jenderal George yang memperkenalkan konsep "transformasi dalam kontak". Konsep tersebut memberi ruang bagi prajurit di lapangan untuk berkontribusi dalam pengembangan teknologi dan taktik baru, alih-alih hanya menunggu keputusan dari komando di belakang garis depan.

Dengan arahan baru dari Jenderal LaNeve, tampaknya Angkatan Darat AS memilih untuk mengintegrasikan kemampuan drone langsung ke unit-unit tempur konvensional, daripada memisahkannya dalam satu batalion khusus. Strategi ini dinilai lebih praktis dan memastikan setiap prajurit infanteri memiliki pemahaman dasar tentang perang drone, sekaligus tetap mempertahankan keunggulan teknologi di medan perang modern.

Reporter: Xander Situmorang
Sumber: techradar.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top