SULAWESI BARAT — Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 0,02% atau tiga poin ke level Rp 17.859 per dolar AS. Pelemahan berlanjut hingga menyentuh Rp 17.864 per dolar AS pada pukul 09.10 WIB. Pergerakan ini terjadi di tengah sentimen global yang masih tidak bersahabat bagi mata uang negara berkembang.
Analis Doo Financial, Lukman Leong, menilai meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi pemicu utama pelemahan rupiah hari ini. Kondisi itu diperparah oleh kenaikan harga minyak mentah dunia yang menambah beban bagi negara pengimpor minyak seperti Indonesia.
"Rupiah diperkirakan masih berpotensi melemah terhadap dolar di tengah eskalasi geopolitik di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak mentah dunia," ujar Lukman.
Kendati demikian, Lukman memperkirakan pelemahan rupiah akan relatif terbatas. Sikap investor yang menunggu hasil RDG BI sore ini membuat pergerakan mata uang Garuda tidak agresif. Ia memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp 17.800 hingga Rp 17.900 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
Senada, Senior Ekonom KB Valbury Sekuritas, Fikri C Permana, memperkirakan rupiah bergerak tipis dengan kecenderungan terdepresiasi hingga sekitar Rp 18.060 per dolar AS. Menurutnya, sejumlah faktor membayangi pergerakan rupiah, tidak hanya dari eksternal.
Fikri merinci faktor-faktor yang menjadi beban bagi nilai tukar rupiah, baik dari sisi global maupun domestik:
"Faktornya kekhawatiran meluasnya tensi geopolitik Timur Tengah, bond sell-off yang terjadi secara global, wait and see jelang hasil RDG BI, serta mulai meningkatnya tensi politik domestik," kata Fikri.
Keputusan BI terkait suku bunga acuan sore ini akan menjadi katalis utama bagi pergerakan rupiah ke depan. Pelaku pasar menantikan sinyal kebijakan moneter untuk mengukur langkah selanjutnya di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi.
Investasi mengandung risiko.