JAKARTA — PT Pertamina (Persero) resmi menurunkan harga BBM nonsubsidi per 1 Agustus 2026. Pertamax (RON 92) kini dibanderol Rp 15.950 per liter, turun Rp 300 dari harga sebelumnya yang sempat bertahan di angka Rp 16.250 per liter sejak 10 Juni 2026.
Penyesuaian ini juga berlaku untuk produk Pertamax Turbo dan Pertamax Green 95. Berdasarkan laman resmi MyPertamina, Jumat (31/7), harga Pertamax di wilayah DKI Jakarta dibanderol Rp 15.950 per liter, sama halnya dengan harga di daerah lain yang mengikuti formula yang telah ditetapkan.
Penurunan harga kali ini tidak hanya terjadi pada Pertamax. Pertamax Turbo (RON 98) juga mengalami penyesuaian signifikan, dari Rp 19.300 per liter menjadi Rp 18.300 per liter per 1 Agustus 2026.
Sementara itu, Pertamax Green 95 turun dari Rp 17.000 per liter menjadi Rp 16.600 per liter. Penurunan ini menjadi kabar baik bagi pengguna kendaraan bermesin tinggi yang selama ini mengandalkan bahan bakar beroktan tinggi.
Di tengah penurunan harga BBM nonsubsidi, pemerintah dan Pertamina memutuskan untuk tidak mengubah harga BBM bersubsidi. Pertalite tetap dijual dengan harga Rp 10.000 per liter dan Bio Solar Rp 6.800 per liter.
Untuk segmen solar nonsubsidi, harga Pertamina Dex masih bertahan di level Rp 21.150 per liter dan Dexlite Rp 19.700 per liter. Artinya, penyesuaian harga kali ini hanya menyasar produk bensin nonsubsidi.
Penurunan harga ini terjadi seiring dengan penyesuaian harga minyak dunia yang cenderung melandai dalam beberapa pekan terakhir. Pertamina secara berkala mengevaluasi harga BBM nonsubsidi setiap awal bulan, mengikuti fluktuasi harga minyak mentah global dan nilai tukar rupiah.
Bagi konsumen di Sulawesi Barat, penurunan harga Pertamax ini tentu meringankan biaya operasional kendaraan, terutama bagi pelaku usaha transportasi dan logistik yang menggunakan BBM nonsubsidi untuk armadanya. Meski demikian, harga di tingkat pompa bensin daerah bisa sedikit berbeda karena dipengaruhi oleh biaya transportasi dan distribusi ke masing-masing wilayah.
Pertamina mengimbau masyarakat untuk selalu memantau harga resmi melalui aplikasi MyPertamina atau kanal informasi resmi lainnya agar tidak tertipu oleh oknum yang mencoba mengambil keuntungan di tengah perubahan harga ini.