SULAWESI BARAT — Pertumbuhan ekspor Hong Kong pada Juni 2026 tercatat lebih tinggi dibandingkan kenaikan 40,8% pada bulan sebelumnya. Data dari Census and Statistics Department Hong Kong menunjukkan, ekspor ke kawasan Asia secara keseluruhan meningkat 54,4%, dengan lonjakan signifikan ke Singapura sebesar 83% dan pengiriman barang ke Amerika Serikat (AS) yang lebih dari dua kali lipat dibandingkan Juni 2025.
Dari sisi komoditas, pertumbuhan terbesar disumbang oleh kelompok mesin dan peralatan listrik beserta komponennya. Nilai ekspor kategori ini melonjak 121,8 miliar HKD (sekitar Rp 280,99 triliun) atau naik 57,2% secara tahunan.
Kenaikan ini mengonfirmasi bahwa gelombang investasi dan adopsi AI di berbagai negara, terutama untuk pusat data dan perangkat keras, telah mendorong permintaan rantai pasok elektronik yang terkonsentrasi di Hong Kong dan China daratan.
Di sisi lain, nilai impor Hong Kong juga tercatat naik 45,4% yoy menjadi 693 miliar HKD (sekitar Rp 1.598,75 triliun) pada Juni 2026. Angka ini lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 43,5% dan merupakan pertumbuhan tertinggi sejak Februari 1992.
Meski volume perdagangan meningkat tajam, Hong Kong masih membukukan defisit neraca perdagangan sebesar 52 miliar HKD (sekitar Rp 119,96 triliun) pada Juni 2026. Defisit tersebut setara dengan 7,5% dari total nilai impor barang pada bulan yang sama.
Secara kumulatif sepanjang semester I-2026, nilai ekspor Hong Kong tumbuh 39,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sementara impor meningkat 40,6%. Secara kuartalan dengan penyesuaian musiman, ekspor pada kuartal II-2026 naik 13,8% dibandingkan tiga bulan sebelumnya, sedangkan impor naik 9%.
Lonjakan ini memberi sinyal positif bagi produsen komponen dan logistik di kawasan Asia. Namun, para pelaku pasar tetap mencermati risiko perlambatan ekonomi global dan ketegangan perdagangan yang bisa mengganggu rantai pasok elektronik ke depannya.