SULAWESI BARAT — Album tersebut mengabadikan penampilan Discus sebagai headliner di ProgSol Festival, Swiss, pada 2005 silam. Label independen demajors mendistribusikan arsip ini secara fisik melalui acara bertajuk "Rilis Di Toko" di Creative Spac3 Gramedia Jalma, Jakarta Selatan, Jumat (17/7/2026).
David Tarigan, A&R demajors, mengatakan pihaknya sengaja membawa arsip ini ke pasar domestik setelah lebih dari satu dekade Discus absen dari panggung. "Kami merasa sangat terhormat bisa merilis album dari band yang bisa dibilang legenda di skena musik, secara spesifik musik Progressive Rock Indonesia, Discus," ujarnya.
Menurut David, momentum kebangkitan Discus di panggung festival seperti Ngayogjazz 2024 dan Synchronize Fest 2025 menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan musik mereka ke audiens yang benar-benar baru. "Setelah sekian lama, satu dekade lebih, akhirnya mereka bisa main lagi tampil di depan umum. Dan kali ini benar-benar musimnya beda, audience-nya benar-benar baru," kata dia.
Discus lahir dari pertemuan Iwan Hasan dan almarhum Anto Praboe pada 1996. Nama "Discus" diambil dari ikan hias asal Amazon, yang kemudian menjadi inspirasi visual sampul album perdana mereka. Iwan Hasan merupakan satu dari sekitar lima puluh pemain harp guitar profesional di dunia, dan satu-satunya di Indonesia yang belajar langsung dari pelopor John Doan pada 1991.
Meski awalnya didirikan sebagai grup jazz, perjalanan Discus justru membawanya ke panggung progressive rock internasional. "Lucunya, kami diundang ke festival internasional di Amerika itu oleh festival Progressive, gara-gara lagu 'Kontras' dan 'Fantasia Gamelantronik'. Di sana ada unsur Progressive Fusion dan akustikan chamber music yang disukai publik prog-rock," kata Iwan Hasan.
Album debut 1st (1999) yang dirilis melalui Mellow Records, Italia, menuai pujian luas. Media musik AS, Expose, menobatkannya sebagai salah satu album progressive terbaik dunia. Majalah Prog-Resiste dari Belgia memasukkannya ke lima besar album progressive rock terbaik dunia pada 1999. Di dalam negeri, mendiang Denny Sakrie mencatatnya sebagai salah satu album jazz paling penting dalam sejarah musik Indonesia melalui Rolling Stone Indonesia.
Perjalanan band terhenti setelah wafatnya Anto Praboe pada 2010, disusul mundurnya Iwan Hasan. Namun pada 2011, album ...tot licht! (2003) justru menjadi nomor satu Best Seller semua genre di Amazon Jepang. Momentum kebangkitan berlanjut pada 2024 ketika Disk Union Jepang merilis box set tiga CD yang langsung menembus posisi empat besar Best Seller semua genre International Chart.
Kini Discus beranggotakan Iwan Hasan (harp guitar), Fadhil Indra, Hayunaji, Krisna Prameswara, Nonnie Cindy, serta didukung Yuyun Arfah (ethnic vocal), Dony Koeswinarno (soprano sax/flute), Didiet (violin), dan Soebroto Harry (bass). Mereka tidak hanya merilis album, tetapi juga menargetkan tur dan tampil di berbagai festival musik.
"Kita lihat seperti apa nanti respons anak-anak zaman sekarang terutama melihat band legendaris ini," ujar David Tarigan. "Dan ya sekarang lanjutannya, kita rilis dulu CD ini, Live in Switzerland."